Tangan Wujud Intelek

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair (Sumber: Banten Raya 2 Februari 2015)

“Karena di dalam sentuhan terdapat cinta kasih dan akal abadi” (Helen Keller).

Bagian tubuh kita yang paling banyak bekerja adalah tangan. Tangan juga yang paling sering mewakili emosi, gerak, dan ekspressi kita dalam hidup sehari-hari. Kita mengacungkan tangan ke arah orang lain ketika kita marah, menantang, dan mengancam. Tangan pula yang membanting, memukul, atau bahkan menikam. Kita berdoa dan mengusap airmata kita dengan tangan, hingga bisa dikatakan tangan adalah bagian tubuh kita yang paling akrab dengan kebajikan dan kejahatan.

Sebab tangan-lah yang memukul sekaligus menjabat mesra. Tangan pula yang telah menghasilkan ribuan puisi indah, patung-patung atau lukisan-lukisan monumental yang dikagumi dan dikenang banyak orang, sejumlah kerajinan dan produk ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang mendatangkan banyak manfaat bagi hidup kita. Hal ini dicontohkan dengan baik dalam pengakuan Helen Keller:

“Tangan bagiku sama artinya dengan pendengaran dan penglihatan bagimu. Secara umum dapat dikatakan kita menempuh jalan yang sama, membaca buku yang sama, berbicara menggunakan bahasa yang sama. Tetapi yang aku dan kau alami sangatlah berbeda. Segala gerakku berporos pada tanganku. Tanganlah yang menjadi pengikatku pada dunia pria dan perempuan. Tanganku adalah alat peraba yang bersamanya aku menjangkau segalanya, melenting dari keterasingan dan kegelapan malam yang kekal”.

Namun dengan tulisan ini saya tak hendak mengetengahkan tangan sebagai cermin intelegensia sebagaimana yang diulas oleh Martin Heidegger. Melainkan tangan yang diintimi oleh Helen Keller dalam hidupnya sebagai perempuan tunanetra dan tunarungu, di mana karena cacat yang dideritanya sejak usia 19 bulan itu membuat tangannya menjadi organ tubuh sekaligus indera untuk meraba, menerka, merasa, membaca, dan mengenali dunia yang bagi orang normal fungsi itu milik mata dan telinga dalam artian yang umum dipahami.

Pertama-tama marilah kita pahami afirmasi makna material dan spiritual tangan tersebut dalam kata, bahasa, dan istilah seperti yang dituturkan Helen Keller dalam otobiografinya yang berjudul The World I Live In itu. Sebuah otobiografi unik di mana penulisnya mengutarakan dan menceritakan apa yang telah dilakukan tangannya sebagai perempuan tunanetra dan tunarungu.

Dalam catatan-catatan otobiografisnya itu Helen Keller dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia melihat dan mendengar dengan tangannya. Tentu saja kata melihat dan mendengar yang dikatakannya itu bukan dalam artian verbal. Kata mendengar dan melihat yang dimaksudkannya adalah pengintiman dan pengenalan dunia luar secara lain.

Kata “hand” (tangan) dipahami oleh kita sebagai “the organ of apprehension” (organ untuk menangkap dan memahami). Dan yang ditangkap dan dipahami tangan mencakup dunia fisik, spiritual, dan intelektual. Demikian papar Helen Keller dalam catatan-catatan otobiografisnya itu. Seperti ketika tangan kita meraba bunga teratai basah kita akan mendapatkan pengalaman yang berbeda ketika tangan kita menyentuh bunga teratai yang kering dan layu. Atau ketika tangan kita sanggup membedakan kerasnya kayu dengan kerasnya batu saat menyentuh dan mengetuknya.

Seperti itu pula Helen Keller mengenali benda-benda, sesama manusia, dan tentu saja dunia yang melingkupi hidup dan membangun pengalamannya sebagai perempuan tunanetra dan tunarungu, yang dalam banyak hal justru lebih mampu membuatnya lebih akrab dan intim dengan apa saja yang disentuh oleh tangannya.

Hampir di sebagian besar isi otobiografinya yang berjudul The World I Live In itu, Helen Keller menceritakan kehidupan sehari-harinya dan mengenali dunia pengalamannya dengan “merasa” dan “menyentuh” menggunakan tangannya. Tangannya Helen Keller adalah tangan yang telah menggantikan fungsi mata dan fungsi telinga yang dimiliki orang kebanyakan yang normal. Tetapi dengan itulah imajinasi Helen Keller malah jadi berkembang mengembarai dunia-dunia yang diterka dan diangankannya melalui tangan dan pikiran. Meski pada awalnya, seperti yang diakuinya, kebutaan dan ketuliannya membuatnya seakan-akan terjebak dalam dunia mimpi abadi yang gelap dan sunyi-sepi.

Berkat dorongan dan motivasi gurunya, Anne Sullivan, akhirnya ia mampu berjuang untuk melawan dan mengatasi kekurangannya itu menjelma harapan.

Lahir di kawasan pedesaan Tuscumbia, Alabama, sudah barang tentu Helen Keller akan meminta menjalani kehidupan sehari-hari sebagai orang yang normal jika saja ia boleh memilih dan mengajukan opsi kepada Tuhan. Dunia gelap tanpa suara yang menghampiri dan datang di saat ia berusia 19 bulan itu tokh akhirnya ia terima sebagai sebuah kekuatan dan kebetulan yang berada di luar kekuasaannya sebagai manusia.

Justru dengan kebutaan dan ketuliannya itu pula indra penciuman dan tangannya jadi lebih kuat dan lebih peka ketika mengenali dunia dan benda-benda yang ingin diketahui dan diakrabinya dengan jalan meraba dan mencium benda-benda, aroma, suhu udara, atau mengenali orang-orang dengan membedakan bau keringat mereka.

Membaca catatan-catatan otobiografi Helen Keller tersebut, kita semakin menerima pemahaman bahwa jiwa dan badan memang entitas yang amat karib dan intim, bukan entitas yang saling meniadakan sebagaimana wawasan dan paradigma Platonisme dan Cartesianisme itu.

Sebelum dunia bathin dan dunia pikirannya Helen Keller mengembarai dunia malam imajinasi dan harapan yang gelap itu, tangannyalah yang terlebih dahulu meraba, menyentuh, dan merasakan benda-benda yang ingin diketahui dan dikenalinya. Barulah kemudian ia mengembangkan impressi dan sensasi yang didapatkannya ia sulap menjadi sekian gagasan yang menjelma sejumlah karya tulisan.

Dalam kegelapan malam yang kekal itu pula dunia dan gagasan keimanan Helen Keller terasa lebih lembut, peka, dan indah. Hingga menghasilkan gema dan nada-nada yang terdengar amat feminim bagi kita tanpa mesti mengumbar keluhan dan ratapan yang berlebihan.

Membaca catatan-catatan otobiografi Helen Keller yang berjudul The World I Live In itu, secara pribadi saya mendapatkan pemahaman dan penegasan tentang badan yang sejajar dengan jiwa. Sebuah pemahaman yang bertentangan dengan pemahaman dan wawasan Platonisme dan Cartesianisme yang merendahkan badan sebagai The Second Entity atawa entitas kedua atau entitas tambahan semata.

Di sini, seorang pemikir besar yang saya kira memiliki pandangan dan wawasan positif tentang badan adalah Thomas Aquinas, teolog dan filsuf dari abad pertengahan itu, yang dalam beberapa hal menolak gagasan dan wawasan filsafat Plato dan lebih menerima pandangan dan wawasan filsafatnya Aristoteles.

Sebuah sentuhan tangan yang lembut dan penuh cinta seorang kekasih, demikian tulis Helen Keller, jauh lebih berkesan dan terasa ketimbang kata-kata yang diucapkannya. Sentuhan lembut tangan sang kekasih itu akan meresap bersama aliran darah di tubuh kita yang memang menginginkan sentuhan sesama tangan dan badan.

Dan seperti kita tahu, tangannya seorang seniman dan penulis adalah tangan yang bekerja sekaligus berpikir secara bersamaan. Seperti ketika seorang penyair menyusun rima dan suara sajak, seperti ketika seorang komposer menggubah dan menyusun nada-nada, seperti ketika seorang novelis menulis prosanya, seperti ketika seorang pemahat mengukir patung dan kerajinan, seperti ketika seorang pelukis membuat sketsa dan merangkai warna, dan lain sebagainya.

Pikiran dan intelegensia tangan malah seringkali lebih sigap dan tangkas, seperti ketika kita menangkis saat dipukul, seperti ketika menangkap dan meraih tangan dan tubuh orang yang kita sayangi saat terjatuh. Tangan memanglah organ tubuh kita yang paling unik anugerah Tuhan, anugerah yang dalam hidup Helen Keller demikian intim dan akrab.

Iklan

Hujan, Kematian, Waktu

oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair

Setiap kenyataan dan peristiwa tentulah akan senantiasa bersifat subjektif bagi setiap orang atau pengamat yang berbeda, bagi subjek yang berlainan saat mengalaminya. Begitu pula suatu “sunnah alam” yang sama, semisal hujan yang dibicarakan dalam diari singkat ini, tak selamanya memberikan dan menghadirkan keintiman dan suasana yang seragam ketika ia hadir dan datang kepada kita untuk yang pertama-kalinya atau untuk yang kesekian-kalinya.

Bagi saya sendiri, dan tentu saja saya tidak tahu bagi Anda, hujan saya pahami sebagai waktu dan semesta yang tumpah, sebagai aksara yang lahir untuk menjadi kata, menjadi kalimat, singkatnya menjadi sajak. Ini adalah momen ketika saya berada di ruang baca dan meja menulis saya, dalam keheningan dan kesendirian.

Pada saat itu, lewat jendela kaca, saya menyempatkan diri untuk merenungi dan memandangi mereka. Menyimak riuh dan gemericik suara mereka, yaitu ketika kelahiran dan kematian hadir bersamaan dalam waktu. Persis ketika waktu sedang berhenti.

Dan tentu saja, adakalanya mereka menawan saya dalam momen-momen yang lain, seperti ketika saya duduk atau menunggu di halte busway, di kota Jakarta yang tak bahagia itu, dalam keadaan kedinginan, dan saya yakin Anda pernah mengalami momen ini.

Momen ketika mereka mengguyur jalanan aspal dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh dan bisu.

Dalam keadaan seperti itu, Anda kadang merasa kesal, jenuh, atau bosan, tak lain karena pada momen itu, mereka menghadirkan dan menghunjamkan kesepian ke dalam perasaan dan hati Anda, kedalam jantung eksistensi Anda yang rentan. Kecuali jika Anda menerima dan mengintiminya sebagai momen puitik.

Kehadiran mereka, ternyata “menciptakan” ragam momen eksistensial dan suasana bathin bagi ragam orang di ragam tempat dan “waktu”.

Momen eksistensial bagi seorang kekasih yang memiliki janji atau jadwal untuk bertemu kekasihnya, contohnya. Bagi mereka yang hendak ke tempat kerja atau bagi mereka yang hendak pulang dari tempat kerja, dan lain sebagainya.

Tetapi lain di kota lain pula di desa (di sebuah kosmik ruang-waktu di mana saya kerapkali diberi sejumlah puisi romantis dan sentimentil), hujan adalah momen puitik dan peristiwa bahasa, sejumlah perumpamaan kosmis dan spiritual, di mana kematian dan kelahiran, hadir dan datang secara serentak.

Momen ketika waktu berhenti, dan bahasa kembali ke rahimnya sebagai puisi. Bahasa itu adalah perpaduan kematian dan kelahiran, yang kita sebut waktu.

[2011]

Belajar dari Alam Keseharian dan Orang Lain

Ada dua dunia, atau orang kadang bilang realitas, yang saya akrabi: alam keseharian dan dunia teks (buku, jurnal, majalah, koran, atau tulisan-tulisan di media-media daring). Dari alam saya belajar bahasa dan metafora, dan dari dunia teks (tulisan) saya belajar menyusun narasinya dari ragam penulis melalui karya-karya mereka yang saya baca.

Keakraban saya dengan alam keseharian tentu sudah sejak saya kanak-kanak, karena saya lahir dan besar di pedesaan. Akrab dengan permainan di pematang-pematang sawah, seperti berburu belalang dengan teman-teman saya ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD). Kehidupan keseharian saya sebagai orang desa itulah yang kemudian membuat saya sesekali memandangi keindahan langit senja dari sebuah gubuk di mana saya berada, ketika saya ditugaskan untuk menunggui padi-padi yang mulai menua dan mengunig agar tidak dimakan para burung.

Saya sedang bicara tentang alam keseharian saya di masa saya masih kanak-kanak dan remaja, ketika industri belum hadir di dekat gugusan pematang-pematang sawah di belakang rumah. Ketika listrik dan internet belum hadir. Ketika keheningan malam begitu agung, dan kami hanya mampu menerangi rumah-rumah kami dengan lampu minyak yang disebut damar.

Kenapa saya katakan alam adalah metafora dan bahasa? Tak lain karena ia pada saat bersamaan adalah sekian gambaran kehidupan sekaligus kematian, hidup dan maut. Bagaimana udara yang tak terlihat memainkan ilalang dan dedaunan, kadangkala saya anggap sebagai wujud kematian yang sedang memberi pelajaran kepada saya bahwa usia tak dapat kita duga. Bagaimana air yang memantulkan citra langit saya anggap sebagai sumber keberkahan dan kehidupan sekaligus teka-teki takdir.

Terkadang saya berusaha menebak-nebak keberadaan Tuhan ketika saya merenungi alam keseharian itu. Tapi memang Tuhan yang saya bayangkan adalah Tuhan yang tanpa wujud, sesuatu yang ketika saya membayangkan dan mengangankannya justru pada saat itu saya seperti terbentur batas imajinasi saya, mungkin karena kekhawatiran saya pada kutuk jika saya terlampau ‘kurang ajar’ dengan ‘menggambarkanNya’ dalam citra-citra.

Tapi dalam ketakmampuan saya untuk menggambarkanNya dalam citra-citra itu, saya justru telah menghindari diri saya untuk melakukan upaya personifikasi dan materialisasi atas dan tentang-Nya. Sehingga bagi saya lebih baik mengakrabi dan mengintimi keindahan dan keagungan ciptaan-Nya, dari metafora kosmik ke dalam metafora naratif.

Ketika kita membaca karya-karya para penulis lain, kita tidak sedang belajar metafora dan bahasa dari mereka, melainkan ‘belajar’ bagaimana bertutur dan bagaimana menuliskannya. Bahasa dan metafora diungkapkan dari kapasitas aktus intelek dan ketajaman batin kita untuk menggambarkan dan menghadirkan pandangan dan persepsi kita atas alam dan kehidupan menjadi seni kepada para pembaca.

Noam Chomsky tentang Terorisme Amerika

oleh Sulaiman Djaya, esais & penyair (Sumber: Banten Raya 30 Agustus 2014)

Berbeda dengan kondisi beberapa puluh tahun silam dalam sejarah kemanusiaan kita, juga dalam sejarah bangsa-bangsa, dunia saat ini telah mengalami perubahan yang besar, yang diantaranya adalah kesadaran bahwa Amerika adalah entitas hipokrisi dunia.

Jika di masa-masa itu negara-negara imperialis dunia, khususnya Amerika, bisa merasa bebas melakukan apa saja dengan menggunakan lembaga-lembaga moneter dan politis yang dapat di-veto dan “diarahkan”-nya untuk melakukan intervensi ekonomi dan politik Negara-negara lain, untuk saat ini sudah mulai hadir para pemimpin yang berani berdiri tegak untuk menentang unilateralisme Amerika, semisal Hugo Chavez dan Mahmoud Ahmadinejad.

Singkat kata, Amerika sudah tidak lagi leluasa berbuat semaunya, sebab negara-negara dunia sudah lebih tanggap dan siap melayangkan protes bahkan kecaman terhadap kesewenang-wenangan dan arogansi unilateral, yang lagi-lagi, lebih sering dipraktekkan Amerika. Tak heran jika akhirnya Amerika menjadi negara yang paling dibenci oleh masyarakat internasional, karena kejahatan dan kesewenang-wenangan yang dilakukannya di berbagai belahan dunia, tak terkecuali kebiasaannya menciptakan fron-fron ekstrim dan teroris yang diperalat untuk mencapai target politiknya.

Lihat saja fron-fron ekstrim yang diciptakan Amerika saat ini, semisal Front Al-Nusra dan ISIS di kawasan Irak dan Suriah itu.

KRITIK PEDAS NOAM CHOMSKY
Khusus berkenaan dengan pemerintahan George Walker Bush, di mana mayoritas dunia sepakat bahwa Bush adalah figur jahat dan keji dalam sejarah kemanusiaan kita, para cendekiawan dan pengamat politik yang independen sering melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Gedung Putih. Kecaman juga tak terkecuali disampaikan oleh para cendekiawan di dalam negeri Amerika sendiri.

Salah satu tokoh pemikir di Amerika yang sering melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Bush adalah Noam Chomsky, dosen di Universitas Massachusset. Noam Chomsky bahkan seringkali bernada keras dan sarkastis dalam melayangkan kritiknya, dan tak sungkan-sungkan menyebut pemerintah Amerika sebagai pelanggar norma-norma kemanusiaan yang paling parah dan tak tahu malu. Pemikir besar ini mengimbau Gedung Putih agar mengubah kebijakannya demi tegaknya perdamaian dan kedamaian di dunia.

Betapapun banyak juga yang nyinyir dan tidak suka kepada Noam Chomsky, namun haruslah kita akui bahwa keterus-terangan Noam Chomsky telah membuat dunia sadar dan mengenalnya sebagai tokoh cendekiawan yang jujur yang justru terbukti memiliki komitmen yang kuat bagi kemanusiaan di jaman kita ini. Tak jarang, bahkan seringkali, pernyataan-pernyataan pedasnya selalu disensor oleh media-media massa Amerika. Hanya saja sensor ketat tersebut tidak menyiutkan tekad dan nyali Chomsky dan rekan-rekannya untuk terus aktif mengungkap kesewenang-wenangan rezim Washington.

Melalui media cetak dan situsnya sendiri, Noam Chomsky dan kelompoknya yang gigih ini tetap aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat dunia akan sepak terjang Gedung Putih dan bahaya yang ditimbulkannya bagi rakyat AS sendiri dan dunia secara umum, dunia kita saat ini dan jaman kita ini.

Dan sebagaimana sama-sama kita tahu, salah-satu isu dan fakta utama jaman kita saat ini adalah maraknya terorisme, salah satu masalah yang menurut Noam Chomsky adalah kebohongan besar Gedung Putih ketika Amerika mengumandangkan perangnya melawan teror ini. Tak lain karena “Amerika sendiri yang memimpin gerakan terorisme di dunia”. Untuk membuktikan kebenaran klaimnya tersebut, Noam Chomsky membeberkan beberapa contoh yang diantaranya dukungan Amerika kepada operasi teror untuk menggulingkan pemerintahan Nicaragua yang terbentuk melalui revolusi tahun 1979.

Noam Chomsky menulis, “Operasi (penggulingan pemerintahan Nicaragua) ini dikutuk oleh Mahkamah Internasional dan Dewan Keamanan merumuskan dua resolusi berkenaan dengan hal ini, namun Amerika segera memveto keduanya.” Pemerintahan Ronald Reagan kala itu telah melakukan banyak kejahatan terorisme, yang salah satunya adalah aksi penembakan pesawat komersial Iran tahun 1988 yang menewaskan sekitar 300 penumpang sipil.

Chomsky juga menyebutkan operasi militer AS ke sejumlah negara pada masa itu dan menilainya sebagai invasi dan pelanggaran kedaulatan negara lain. Aksi ini menurutnya jauh lebih buruk dari terorisme yang telah dikenal masyarakat atau warga dunia.

Selanjutnya, mengenai era baru perang melawan teror yang pernah dikumandangkan oleh George Walker Bush, figur yang tak bermartabat dan memalukan bagi manusia itu, pasca peristiwa 11 September, Noam Chomsky menyatakan bahwa mereka yang saat ini mengaku sebagai pemimpin perang melawan teror adalah orang-orang yang justru sebelumnya pernah divonis oleh Mahkamah Internasional sebagai pelaku teror.

Puluhan tahun silam mereka mengumumkan perang anti teror, tapi semua menyaksikan apa yang mereka lakukan. Sepak terjang mereka telah mengakibatkan kerugian yang besar bagi kawasan Amerika Tengah dan berapa banyak nyawa warga sipil yang melayang akibat perang ini. Lebih lanjut Noam Chomsky menegaskan, “Jika mau, kami dapat menyusun daftar seluruh kehancuran yang dihasilkan oleh kinerja Amerika. Sepak terjang ini tidak berkesudahan. Karena itu dapat dikatakan bahwa Amerika tidak pernah melakukan langkah apapun untuk memerangi terorisme.”

Yah, sekali lagi, karena fron-fron teroris tersebut tak lain adalah pion-pion Amerika sendiri, tak ubahnya para bajak laut yang dipelihara kerajaan atau sebuah Negara di masa lalu.

DONALD RUMSFELD DAN JOHN NEGROPONTE
Pertanyaan kita adalah jika fron-fron teroris itu diciptakan Amerika, siapakah arsiteknya? Di sini Noam Chomsky menyebut nama dua orang, yaitu John Negroponte dan Donald Rumsfeld, dua komandan lapangan yang sekaligus mereka sendiri-lah yang menciptakan fron-fron dan kelompok-kelompok teroris.

Khusus mengenai John Negroponte yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional Amerika, Noam Chomsky menyatakan, “Saat menjadi duta besar Amerika di Honduras, John Negroponte adalah rekan kerja direktur operasi utama dalam perang melawan pemerintahan Sandinista.” Chomsky juga menyebut Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika (kala itu), bahkan lebih buruk dari Negroponte.

Noam Chomsky menulis, “Pada masa Ronald Reagan menjadi Presiden Amerika, Rumsfeld berperan sebagai utusan khusus Presiden ke Timur Tengah. Tugas utama yang dipikulnya adalah menjalin hubungan yang dekat dengan Saddam Hossein (tiran yang kelak akan dimanfaatkan Amerika dan sekutunya untuk memerangi Iran selama delapan tahun dalam perang yang kita kenal sebagai Perang Irak-Iran), untuk memudahkan Amerika memberikan bantuan kepada Irak.

Salah satu bantuan yang dimaksud adalah bantuan senjata pemusnah massal yang digunakan rezim Saddam untuk melakukan pembantaian massal terhadap warga Kurdi Irak dan Muslim Syi’ah. Setelah perang Irak-Iran berakhir, bantuan Amerika itu bahkan masih terus mengalir.”

MELAHIRKAN ANTIPATI
Noam Chomsky tak lupa pula menambahkan bahwa penyebab utama kebencian masyarakat dunia, khususnya di Timur Tengah, terhadap Amerika, tak lain adalah karena dukungan mutlak Washington kepada rezim-rezim despotik dan kelompok-kelompok teroris yang dapat dimanfaatkan Amerika di berbagai belahan dunia, termasuk ISIS dan yang sejenisnya saat ini, yang salah satunya adalah rezim Zionis Israel yang selama berpuluh tahun menelantarkan, menculik dan membantai rakyat Palestina.

Bahkan, Noam Chomsky tak sungkan-sungkan menyebut Amerika sebagai rezim teroris yang melindungi para teroris. Tak lupa pula kritikus jempolan ini menyebutkan nama sejumlah orang penting yang terlibat aksi terorisme dan pembantaian warga sipil dalam skala besar. Singkatnya, Noam Chomsky meragukan kebenaran klaim perang melawan teror yang disulut oleh Amerika, tak lain karena yang membuat group-group teroris adalah Amerika sendiri.

Sebagai contoh lain, saat memberikan sambutan pada seminar tahunan Organisasi Amnesti Internasional pada Januari 2005 silam, Noam Chomsky mengungkapkan adanya peringatan rahasia yang disampaikan dinas-dinas intelijen Amerika kepada para perancang perang Irak bahwa perang ini kemungkinan akan semakin meningkatkan ancaman terorisme di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Washington dan London memiliki tujuan lain dalam menginvasi Irak, bukan untuk menumpas gerakan terorisme itu sendiri, karena mereka lah yang menciptakan milisi-milisi terrors yang dimainkan sesuai dengan kendali politik dan finansial Ingris dan Amerika, sebagaimana ISIS saat ini yang diciptakan Amerika, Israel, Ingris dan didanai bersama-sama dengan Rezim Saudi dan Qatar.

MASALAH PALESTINA
Sementara itu, khusus untuk kasus Palestina, dalam sebuah pernyatannya, Noam Chomsky mengungkapkan sejumlah fakta tentang kejahatan orang-orang Zionis terhadap rakyat Palestina. Noam Chomsky mengungkapkan bahwa “Pada tanggal 3 Oktober tahun 2000, Presiden Amerika saat itu, Bill Clinton, mengeluarkan instruksi pemberian suku cadang militer dan helikopter tempur Apache yang merupakan helikopter tempur tercanggih buatan Amerika kepada Israel. Masalahnya adalah penguasa Gedung Putih tahu persis apa yang akan dilakukan Israel dengan helikopter ini.”

Dan benar saja, dengan helikopter pemberian Bill Clinton inilah tentara Zionis melakukan kejahatan besar terhadap rakyat Palestina. Kala itu banyak warga Palestina yang menjadi sasaran roket dan peluru-peluru yang ditembakkan oleh helikopter Apache sumbangan Bill Clinton kepada Israel tersebut. Dengan kata lain, kala itu helikopter Amerika dengan pilot Israel telah melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina yang tak bersenjata.

Tak hanya itu saja, Noam Chomsky pun melanjutkan, “Jika orang-orang Arab Palestina membalas serangan itu, mereka akan langsung dicap sebagai teroris.” Persis di sini lah, Noam Chomsky dengan tegas mengkritik dukungan Amerika kepada Israel, dengan mengatakan, “Selama beberapa dekade, Amerika mengerahkan segenap daya dan kekuatan untuk membela sekutu terdekatnya di Timur Tengah, yaitu Israel.”

IRAN YANG MERDEKA
Tak hanya soal-soal di atas, hubungan konflik Amerika dan Iran juga menyita perhatian Noam Chomsky dan disorotinya dengan tajam dan kritis, brilian, dan jernih. Menurutnya, dukungan Amerika kepada Iran dibawah rezim Syah Pahlevi adalah berkat ketergantungan Syah Pahlevi kepada Amerika. Kita tahu, Rezim Syah Phalevi yang manut dan mau diperbudak Israel dan Amerika ini kelak akan di-revolusi oleh jutaan Muslim Syi’ah Iran yang bangga dengan teladan Islam dan para imam suci Ahlulbait mereka.

Noam Chomsky juga mengkritisi kebijakan AS yang cenderung memusuhi Iran pasca revolusi Islam. Sedangkan mengenai isu nuklir Iran, Chomsky menyatakan, “Selama tiga tahun Iran menangguhkan aktivitas pengayaan uranium yang sudah menjadi haknya, hanya untuk memupuk kepercayaan umum akan status damai program nuklirnya. Namun Amerika dan Eropa menyalahgunakan niat baik Iran ini.” Akibatnya, Iran tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Eropa.

Akhir kata, Professor Noam Chomsky yang brilian dan jujur itu dalam banyak kesempatan dan tulisan-tulisannya tak segan-segan melayangkan kritik dan kecaman secara blak-blakkan dan tanpa sungkan-sungkan terhadap kebijakan militerisme dan terorisme Amerika.

Visi Ekonomi Berkeadilan Sosial Menurut Islam

Menyimak Pemikiran Ekonomi Sayyid Muhamad Baqir Al-Shadr

oleh Sulaiman Djaya, esais & penyair (Sumber: Radar Banten 17 Oktober 2014)

Selama ini kita senantiasa disuguhi teori-teori ekonomi Barat yang berorientasi pasar kapitalistik dan cenderung individualistik yang kurang memberi perhatian pada aspek keadilan dan keseimbangan sosial. Berbeda dengan visi dan paradigma Barat tersebut, Islam sangat menekankan pentingnya keseimbangan dan keadilan sosial dalam kerja dan distribusi.

Dalam konteks ideologi “pembangunanisme”, misalnya, kita sesungguhnya patut bertanya siapa yang akan diuntungkan dan akan dirugikan? Kemudian kelompok mana yang memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar diajukan oleh kita karena pada faktanya saat ini semua kegiatan dan fasilitas ekonomi begitu terserap oleh oligarkhi segelintir elit pemilik modal, yang mirisnya lagi adalah elit-elit pemilik modal dari seberang sana. Sehingga, sebagai contoh, yang seringkali menikmati keuntungan dari kekayaan alam Indonesia adalah pemilik-pemilik modal dan owner-owner perusahaan dari Amerika dan lain-lain.

Dalam kenyataannya, paradigma ekonomi yang membela privatisasi lebih menguntungkan owner-owner asing tersebut, karena mereka lah yang sanggup membeli asset-aset BUMN yang dijual –dan Negara seakan tak berdaya untuk melindungi “barang dan kekayaan” yang sebenarnya milik publik dan asset kekayaan yang dengannya dapat menyejahterakan rakyatnya.

Tepat di sini kita perlu menyimak pemikiran dan visi salah seorang pemikir dan ulama Islam yang genuine menawarkan visi dan paradigma ekonomi Islam, yaitu Sayyid Muhammad Baqir Al-Shadr yang tidak meremehkan keseimbangan dan keadilan sosial. Namun sebelumnya tentu kita bertanya apa itu ekonomi Islam? Dalam hal ini Sayid Muhammad Baqir al Shadr menegaskan bahwa ekonomi Islam bukanlah sebuah sains atau ilmu pengetahuan, melainkan segugus doktrin Islam, di mana sebagai contohnya Islam memandang bahwa kepemilikan itu bersifat multi-jenis, yang bentuknya mencakup kepemilikan private (kepemilikan pribadi) dan kepemilikan bersama, dimana yang kedua, yaitu kepemilikan bersama terbagi menjadi dua, yaitu kepemilikan publik dan kepemilikan Negara yang perbedaannya masing-masing terletak pada tata-cara pengelolaannya.

Menyangkut kepemilikan private atau kepemilikan pribadi, Al-Shadr membatasi definisi dan pengertiannya pada hak memakai dan melarang orang lain untuk menggunakan sesuatu yang telah menjadi milik orang lain. Sementara itu kepemilikan publik harus digunakan untuk kepentingan seluruh masyarakat atau warga-negara dalam suatu Negara atau komunitas politik.

Lalu apa dan bagaimana peran pemerintah atau Negara? Dalam visi dan paradigma ekonomi Islam-nya Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr, fungsi dan peran pemerintah atau Negara dalam ekonomi di antaranya adalah:

PERTAMA, mengatur sistem distribusi atau penyaluran kekayaan berdasarkan pada kemauan dan kapasitas kerja masing-masing individu dalam masyarakat.

KEDUA, mengintegrasikan aturan hukum Islam dalam setiap penggunaan dan pengelolaan sumber daya alam, dan

KETIGA, membangun sistem kesejahteraan masyarakat melalui terjaminnya keseimbangan sosial dalam masyarakat.

Dalam seluruh peran dan fungsi pemerintah atau Negara di atas, seperti dapat kita baca bersama, poin ketiga, yang adalah tentang jaminan sosial demi keseimbangan dan keadilan sosial tersebut, cukup menarik bagi kita. Dalam konteks ini, menurut Al-Shadr, Islam telah menugaskan Negara untuk menyediakan jaminan sosial yang berfungsi untuk memelihara standard hidup yang layak dan tidak memprihatinkan bagi seluruh individu atau warga dalam masyarakat atau warga Negara dalam sebuah Negara –yang dalam hal ini, menurut Al-Shadr, jaminan sosial yang dimaksudkan terkait dengan dua hal.

PERTAMA adalah Negara harus memberi kesempatan yang luas bagi setiap warga atau individu untuk melakukan kerja produktif sehingga ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dari kerja dan usahanya sendiri. Dalam bahasa sehari-hari kita adalah bahwa Negara harus memainkan perannya untuk membuka lapangan pekerjaan dan ruang-urang produktif di mana warga Negara atau anggota masyarakat bisa menyalurkan tenaga dan potensi kreatif mereka.

Sedangkan bentuk jaminan sosial yang KEDUA didasari atas kenyataan bahwa setiap individu atau warga memiliki kemampuan yang berbeda-beda secara kosmik dan alamiah. Dalam hal ini, contohnya, jika individu dalam kondisi yang tidak mampu melakukan aktivitas kerja produktif sebagaimana yang dimaksud dalam bentuk jaminan sosial yang pertama, maka Negara wajib mengaplikasikan jaminan sosial bagi kelompok yang demikian dalam bentuk pemberian uang secara tunai untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan untuk memperbaiki standard hidup kesehariannya ke depan dengan “jaminan sosial” yang diberikan secara tunai tersebut.

Dalam visi dan paradigma ekonomi Islam Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr, prinsip jaminan sosial dalam Islam tersebut didasarkan pada dua basis doktrinal, dimana yang PERTAMA adalah keharusan adanya kewajiban timbal-balik dalam masyarakat, dan yang KEDUA adalah adanya hak masyarakat atas sumber daya atau kekayaan publik yang dikuasai oleh Negara.

Dan seperti telah disebutkan, bahwa Islam sangat memandang penting keadilan dan keseimbangan sosial, maka di sini Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr memandang bahwa dalam Islam konsep keseimbangan sosial tersebut didasarkan pada dua asumsi dasar, yaitu fakta kosmik dan fakta doktrinal.

Yang PERTAMA atau “Fakta Kosmik” merupakan suatu perbedaan, atau sebutlah ketaksetaraan potensi dan kapasitas, yang eksis di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di mana menurut Al-Shadr, merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan oleh siapapun bahwa setiap individu secara alamiah atau secara kosmik memiliki bakat dan potensi atau kapasitas yang berbeda-beda alias dilahirkan dengan kemampuan dan kapasitas yang tidak sama dan tidak setara, yang karena perbedaan tersebut dalam satu titik pada akhirnya akan melahirkan perbedaan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan atau istilah strata sosial. Dari hal inilah, menurut Al-Shadr, adalah tak dapat dibenarkan bahwa perbedaan yang bersifat bawaan atau kosmik tersebut merupakan hasil dari proses sejarah yang bersifat aksidental atau kebetulan semata sebagaimana Karl Marx dan mazhab-nya, semisal Marxisme, memandang dan memaknainya sebagai proses tranformasi sistem kehidupan masyarakat dari tingkatan komunal menuju sistem puncak, yakni komunisme, yang berakar dari proses dialektis dalam relasi produksi (interaksi ekonomi), atau yang dalam bahasa dan istilah Karl Marx sendiri disebut pertentangan kelas.

Sedangkan “FAKTA DOKTRINAL” adalah hukum distribusi yang menyatakan bahwa kerja adalah salah satu instrument atau jalan terwujudnya kepemilikan pribadi atau kepemilikan private yang membawa konsekuensi atas segala sesuatu yang melekat padanya. Maka, konsep keseimbangan sosial atau sebutlah keadilan sosial, dalam Islam menurut visi dan paradigma ekonomi Islam Sayyid Muhammad Baqir Al-Shadr adalah konsep keseimbangan yang harus didasarkan pada dua asumsi dasar yang telah disebutkan di atas.

Tak ragu lagi, dengan paradigma, visi, dan argumentasinya tersebut, Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr telah memberikan interpretasi dan tawaran baru yang orisinil untuk kerangka teoritik dan paradigma ekonomi, yang ternyata bukan hanya dalam arti Ekonomi Islam semata, tapi juga ekonomi dan ekonomi politik yang kita pahami secara umum. Dan dalam hal ini, ia pun sesungguhnya hendak membantah teori dan asumsi Thomas Robert Malthus seputar kemiskinan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan penduduk dan ketersediaan pangan dan sumber daya alam yang terus berkurang seiring jaman, dengan menegaskan bahwa masalah-masalah ekonomi sesungguhnya ada dan hadir bukan disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber material ataupun terbatasnya kekayaan alam, di mana secara doctrinal telah ditegaskan oleh Al-Qur’an Surah Al-Qomar ayat 49 yang terjemahannya berbunyi: “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya (kadarnya)”.

Tak hanya itu saja, ayat tersebut di atas juga diperkuat oleh ayat-ayat lain yang terdapat dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 32-34, dimana Sayyid Muhammad Baqir Al-Shadr berpendapat bahwa permasalahan ekonomi muncul karena disebabkan oleh dua faktor yang mendasar.

Yang PERTAMA adalah karena prilaku manusia yang melakukan kezaliman alias aniaya, dan

KEDUA karena mengingkari ni’mat Allah SWT yang telah dianugerahkan, semisal dalam bentuk kekayaan alam. Yang perlu ditekankan adalah bahwa dzalim di sini dimaksudkan bahwa memang banyak ditemukan dalam realitas empiris kehidupan manusia, utamanya di jaman mutakhir kita saat ini, dimana manusia dalam aktivitas distribusi kekayaannya cenderung melakukan kecurangan-kecurangan untuk memperoleh keuntungan pribadi semata, seperti melakukan tindakan penimbunan, semisal penimbunan bensin, minyak, gas, dan solar yang sering kita simak di berita-berita yang disiarkan channel-channel tivi-tivi swasta dan nasional kita.

Sedangkan yang dimaksud inkar oleh Sayyid Muhammad Baqir Al-Shadr adalah bahwa manusia dalam tindakan ekonomi dan upayanya untuk mencari keuntungan dan kekayaan pribadi tersebut cenderung menafikan ni’mat Allah dengan mengeksploitasi dan mengeruk sumber-sumber alam secara semena-mena, boros, dan seringkali melakukan pencemaran dan kerusakan lingkungan yang dampaknya justru akan mematikan potensi ekonomi ke depan atau untuk masa yang akan datang itu sendiri.

Sastra Cermin Nurani Bangsa

oleh Sulaiman Djaya, esais & penyair (Sumber: Banten Raya 13 April 2013)

Bangsa dan masyarakat yang tidak punya sastra adalah bangsa dan masyarakat yang tidak punya jiwa. Itulah analogi yang barangkali cukup pas untuk menggambarkan nilai dan fungsi sastra bagi dan dalam sebuah bangsa atau masyarakat. Kenapa dianalogikan atau diumpamakan demikian? Tak lain karena karya sastra lahir dari sebuah relung hati perasaan dan jiwa hidup si penulis atau si pengarangnya itu sendiri dan dari dunia keseharian itu sendiri yang sunguh-sungguh “dihidupi” oleh seorang penyair atau sastrawan dengan pikiran, jiwa, imaji, dan perasaannya. Pun, seorang penyair atau sastrawan sebagai individu sekaligus “cermin” dari masyarakat itu sendiri, acapkali menyuarakan apa yang sebenarnya ingin disuarakan pikiran dan jiwa sebuah bangsa dan masyarakat itu sendiri, semisal dalam karya-karya puisi seorang penyair secara khusus, atau pun karya sastra seorang sastrawan secara umum.

PENYAIR DAN SASTRAWAN SEBAGAI CORONG
Jika demikian, maka tak ragu lagi, karya-karya puisi seorang penyair secara khusus atau karya-karya kesusastraan seorang sastrawan secara umum merupakan cermin dan pantulan dari jiwa sebuah bangsa dan masyarakat di mana seorang penyair atau sastrawan hidup, berkarya, bergulat, dan menuliskan puisi-puisi atau prosa-prosanya dengan segenap pikiran, imaji, dan perasaannya itu. Karena itulah, seringkali seorang penyair atau sastrawan dikatakan sebagai wakil atau corong nurani jiwa sebuah bangsa dan masyarakat di mana seorang penyair atau pun sastrawan hidup dan menuliskan karya-karyanya. Sebutlah, misalnya, kegelisahan, harapan, dan imajinasi seorang penyair atau seorang sastrawan adalah kegelisahan, harapan, dan imajinasi banyak orang yang ia suarakan di saat banyak orang hanya mampu memendamnya di dalam hati dan benak mereka, tanpa mengemukakannya dalam sejumlah tulisan, seperti dalam media sajak atau prosa.

Dalam konteks inilah, seorang penyair atau sastrawan adalah wakil dari nurani sebuah bangsa dan masyarakat itu sendiri, meski ia seringkali menuliskan karya sajak atau prosanya lebih merupakan sebuah pergumulan atau pergulatan yang sifatnya individual sekalipun. Ada banyak contoh yang dapat menjadi bukti bagi analogi atau perumpamaan yang demikian. Jika kita membaca sejumlah puisi atau prosa yang ditulis seorang penyair atau sastrawan, misalnya, di sana kita akan menjumpai dan membaca sebuah narasi dan wawasan yang menceritakan dan mengkisahkan peristiwa sosial dan bathin sebuah bangsa dan masyarakat, meski motif dan niat awal seorang penyair atau sastrawan pada mulanya hanya hendak mengungkapkan atau mengekspressikan jiwa dan nuraninya sendiri. Dalam hal ini, kita dapat mencontohkannya dengan karya-karya sastra yang melukiskan dan menggambarkan pergulatan seorang tokoh atau sebuah peristiwa yang ada dalam sebuah bangsa dan masyarakat.

SASTRA CERMIN IMAJI BANGSA
Dalam banyak karya sastra, kita juga seringkali mendapati karya sastra, semisal puisi atau prosa, mencerminkan apa yang diimajinasikan sebuah bangsa atau masyarakat itu sendiri, meski ditulis oleh seorang individu penyair atau sastrawan. Hal itu karena seorang penyair atau sastrawan hidup dalam sebuah bangsa atau masyarakat, hidup dalam bahasa bersama, dalam interaksi dan intersubjektivitas sebagai manusia dan individu, bukan hidup di luarnya, yang karenanya karya-karyanya dapat dibaca sebagai pantulan atau cerminan dari perasaan dan jiwa banyak orang, meski ia sendiri bekerja dalam ruang individual dan privat sekalipun ketika menuliskan karya sajak atau prosanya. Dengan demikian, pergulatan dan perenungannya dapat dikatakan merupakan cerminan dan refleksi apa yang dirasakan dan apa yang terjadi di dalam bangsa atau masyarakat itu sendiri. Sementara yang menuliskan dan menyuarakannya adalah seorang penyair atau seorang sastrawan.

Selain itu juga, karya sastra, semisal puisi atau prosa itu, adalah cermin dari watak dan kecerdasan sebuah bangsa dan masyarakat. Bangsa dan masyarakat yang terdidik dan literer, contohnya, biasanya lebih produktif dalam membaca dan menulis. Di mana dengan kegiatan tersebut, lahirlah kecerdasan sebuah bangsa atau masyarakat, yang dampaknya tentu saja tak diragukan lagi, akan melahirkan dan menciptakan kreativitas sebuah bangsa dan masyarakat itu sendiri. Membaca dan menulis juga dapat menciptakan rasa percaya diri dan budaya kompetitif yang sehat dalam sebuah bangsa dan masyarakat.

PENTINGNYA MENGGALAKKAN BUDAYA KEPENULISAN
Namun, sayangnya, seperti telah kita ketahui, salah-satu hal yang memprihatinkan kita saat ini, adalah rendah-nya budaya baca dan menulis dalam bangsa dan masyarakat kita. Terlebih lagi kondisi seperti ini semakin diperparah dengan hadirnya sekian tayangan-tayangan televisi kita yang telah banyak merebut waktu orang-orang dewasa maupun kanak-kanak, pagi, siang, sore, atau malam, hingga mereka lebih gandrung memegang remote control dan meluruskan pandangan mata ke arah layar kaca, ketimbang memegang sebuah buku dan membaca baris-baris aksara dan paragraf yang ada di dalamnya.

Untuk menengarai dan menengahi situasi seperti itu, kita tidak sepenuhnya mesti membebankan kepada dunia dan institusi pendidikan formal, tetapi dengan menghidupkan ragam komunitas dan kegiatan literasi dan dunia baca di luar sekolah formal, semisal dengan mensupport sejumlah komunitas menulis dan membaca dan menggalakkan event-event kepenulisan dan kesusastraan di luar dunia dan institusi pendidikan formal.

Mengapa komunitas-komunitas yang aktif dalam kegiataan dan penggalakkan dunia literer penting didukung oleh kita atau masyarakat? Karena komunitas-komunitas kesusastraan dan kepenulisan itulah yang melahirkan benih-benih kreativitas dalam dunia kepenulisan dan kecerdasan sebuah bangsa dan masyarakat. Di sana, tak hanya aktivitas dan kegiatan literer saja yang hidup, tapi budaya baca yang dapat menumbuhkan jiwa kerja keras, kompetitif, dan jiwa kreatif sebuah bangsa dan masyarakat, yang dengan demikian akan menjadi penyulut produktivitas sebuah bangsa dan masyarakat dalam bidang kebudayaan secara umum, kepenulisan secara khusus, dan ilmu pengetahuan.

SASTRA CERMIN ORANG BIJAK
Selain dapat menumbuhkan jiwa kreatif dan budaya baca, sastra juga merupakan cermin orang atau manusia bijak. Kenapa dikatakan demikian? Sebab, dengan terus-menerus bergulat dan bergumul dalam dunia perenungan dan penulisan, seorang penyair atau pun seorang sastrawan sanggup mengemukakan sesuatu secara moderat atau dengan sudut pandang dan metode yang lain, yang berbeda dari keumuman, dan sanggup melahirkan sebuah lanskap dan dunia bagi wawasan dan kuriositas baru lewat tulisan-tulisannya, entah berupa media sajak atau pun prosa.

Seorang penyair atau sastrawan, misalnya, dapat mengaplikasikan dan menggunakan alat-alat dan wacana-wacana linguistik-kebahasaan dan penuturan-penulisan, seperti kiasan atau sindirian, bahkan ketika tulisan-tulisan dan karya-karyanya hendak memaksudkan atau memaknakan sebuah kritik atau pun protes. Dan, sebagai medium kebijaksanaan itulah, karya-karya sastra, juga seorang penyair atau sastrawan, dapat memunculkan dan melahirkan kebijaksanaan bagi orang-orang yang membaca dan mengapresiasi karya-karya sajak atau prosanya. Selain tentu saja, melakukan penemuan dan penerobosan modus linguistik-kebahasaan dan melahirkan wawasan-wawasan baru yang akan menjadi sumbangan alias kontribusi penting bagi ilmu pengetahuan secara umum, dan estetika secara khusus.

Jika demikian, maka dapatlah dikatakan, manusia atau masyarakat dan bangsa yang bijak adalah bangsa dan masyarakat yang membaca karya-karya sastra, karena ia telah mengenal dan menyelami suara jiwa dan cahaya nuraninya alias biafran dan senar-senar nyanyian dan harapan jiwanya sendiri, lewat petikan-petikan dan ungkapan-ungkapan keindahan dan keintiman yang sifatnya manusiawi yang terpancar dari karya-karya sajak dan prosa para penyair dan sastrawannya. Dan akhirnya, masyarakat yang bijak itu, akan menjadi masyarakat yang mencintai karya sastra dan para penulis, para penyair, atau pun para pengarang karya-karya sastra.

Samara Forum Seniman Banten dan Radio Serang Gawe FM Edisi Akhir Tahun

Damar Waktu

Bila langit telah redup
Ibuku menyalakan lampu-lampu minyak,
Menyalakan kegembiraan dan kesedihan
Yang dinyanyikan hujan
Di genting-genting rumah

Dan halaman
Menyalakan waktu
Yang kelak jadi kata-kata dan bahasaku.
Ia bacakan huruf-huruf hijaiyyah
Agar aku paham

Firman-firman yang dirisalahkan
Yang kini kutahu
Jadi alat tukar dan komoditas.
Ia dendangkan sholawat
Agar aku tak lupa siapa rasulku

Yang kini ummatnya
Banyak yang memperdagangkan ayat
Demi uang dan jabatan.
Bahkan dijadikan penyemangat
Pembantaian. Ibuku mengajariku

Berdoa
Agar aku tak salah
Kepada siapa meminta pertolongan
Dan membisikan harapan
Kepada pemilik bahasa teragung

Dan kuasa yang tak bisa dilemahkan.
Setiap kali azan magrib berkumandang
Ibuku memadamkan nyala api
Di dapurnya yang lembab
Dan aku kadangkala

Terlambat menyantap menu
Yang dibuatnya. Dari sambal
Dengan dicampur kulit luar buah rosella
Hingga sayur kangkung dan bayam
Tanpa bahan lainnya

Kecuali ikan asin tanpa minyak
Berbungkus daun pisang
Dan berbumbu cabe dan bawang.
Ibuku telah mengajariku
Bahasa yang tak dapat dilumpuhkan

Bernama keyakinan dan kesabaran.
Dan dari segala hikmah yang ia sampaikan
Ikhlas dalam hidup
Adalah yang paling ampuh
Untuk menjadi manusia.

(2018)