Al-Qur’an, Sains-Puisi, Mimpi Einstein

Esai singkat, yang sifatnya diaris ini, tentu saja, merupakan tafsir subjektif saya tentang waktu dan dalam keterkaitannya dengan dunia puitis dan sains, yang tentu juga dipandang secara subjektif, dan saya ingin memulainya dengan prosa-puitisnya Alan Lightman yang ia tuangkan dalam buku Mimpi-Mimpi Einstein-nya itu:

“Siapa yang lebih mujur di dunia dengan waktu yang gelisah ini? Mereka yang telah melihat masa depan dan menjalani kehidupan ini? Mereka yang melihat masa depan dan menunggu untuk menjalani kehidupan? Atau mereka yang menolak masa depan dan menjalani dua kehidupan? Di suatu dunia, waktu berjalan lingkaran. Orang-orang di dalamnya tak henti mengulang takdirnya tanpa perubahan sedikit pun. Di tempat lain, orang mencoba menangkap waktu, yang berwujud burung bulbul ke dalam guci. Di tempat lain tak ada lagi waktu, yang ada hanyalah peristiwa-peristiwa yang membeku” (Alan Lightman, Einstein’s Dreams)

Pertanyaannya adalah: Mungkinkah waktu didefinisikan? Jawabannya antara ya dan tidak. Para fisikawan, misalnya, menyatakan bahwa keberadaan waktu bersifat “relasional” dalam jagat ini, dan bila waktu dipahami atau dimengerti sebagai durasi, hal itu pun akan berbeda di setiap tempat, seperti waktu di bumi tidaklah sama dengan waktu di angkasa sana. Al-Qur’an yang suci menegaskan:

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung” (Al-Haj ayat 47). “Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik menghadap kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima-puluh ribu tahun” (ibid).

Kita bisa bayangkan, berdasarkan penegasan Al-Qur’an yang suci itu, satu hari di suatu kawasan di angkasa sana, yang kita belum tahu di mana itu, sama dengan lima-puluh ribu tahun di bumi, di planet biru-hijau di mana kita hidup, berada, mengalami rasa-senang, kesedihan, jatuh cinta, putus-asa, atau marah. Sementara itu, di bumi sendiri, pengalaman dan pemahaman kita akan waktu tergantung pada aspek fisik dan psikis (bathin) kita. Misalnya, waktu terasa berjalan lambat (lama) ketika kita menderita dan terasa berjalan cepat ketika kita sedang mengalami kesenangan.

Penerimaan dan pengalaman kita tentang waktu, contohnya, tidak sama ketika kita sedang sakit dan ketika sedang bersama kekasih yang dirindu dan dicinta. Ada waktu mekanis yang sifatnya birokratis dan tak lebih sebuah alat ukur yang terbuat dari mesin, dan ada waktu psikis (bathin) yang dialami secara unik dan berbeda oleh masing-masing kita sesuai konteks dan pengalaman kita sendiri yang sifatnya subjektif dan individual.

Ada waktu yang dihitung dan ada waktu yang dilupakan dan dikenang. Kita tahu bahwa sehari-semalam adalah 24 jam secara mekanis, bahwa satu tahun adalah 12 bulan berdasarkan kalkulasi almanak, tapi ada waktu yang “di-ingat” dan “dikenang” oleh kita, meski hal itu kita sebut masa silam atau ingatan. Waktu seperti inilah yang ada dalam musik, dalam nada-nada, dalam roman, atau dalam gubahan-gubahan sajak, yang senantiasa dibaca dan dibaca lagi, meski digubah dan ditulis di masa-masa yang lampau.

Dalam arti ini, waktu bukanlah sesuatu yang dihitung secara mekanik dan matematik, tetapi yang tetap dan tidak bergerak ke mana-mana. Sebab yang bergerak secara bergiliran hanyalah rotasi siang-malam dan putaran jarum-jarum jam dan hitungan angka-angka di saat waktu itu sendiri adalah “diam”.

Dalam fiksi-fiksi sains, contohnya, semisal yang ditulis oleh H.G. Wells dan Jules Verne, diceritakan dan digambarkan bagaimana seorang insinyur dan ilmuwan membuat dan menciptakan “mesin waktu” yang akan membuat kita si pengguna dan pengendaranya bisa kembali ke masa silam sekaligus bisa ke masa depan –membelakangi sekaligus mendahului waktu yang pergi dan datang, agar kita bisa memperbaiki kesalahan dan kekeliruan di masa silam sekaligus sanggup “mendahului” waktu yang akan datang.

Tentu saja hal itu merupakan sebuah alegori ketika manusia ingin “menekuk” dan “melipat” waktu, sekaligus ingin menjadi “penguasa” masa silam dan masa depan. Ingin menjadi makhluk super cerdas yang sanggup melawan hukum fisika atau “takdir kosmik” yang menjadi “hukum pasti” yang tak bisa “dibengkokkan” dan “dirubah” oleh kita.

Tentang waktu yang ingin ditaklukkan oleh H.G. Wells dan Jules Verne itu, Alfred Lord Tennyson pun berdendang:

“Kuarungi masa depan, sejauh mata manusia memandang, melihat visi dunia, dan segala keajaiban yang mungkin terjadi”,

yang mengingatkan kita kepada anekdot sains yang dikutip oleh Lawrence M. Krauss dalam Fisika Star Trek-nya:

“Suatu ketika hiduplah seorang wanita bernama Bright –dan ia berkelana melampaui kecepatan cahaya. Suatu hari ia berangkat, dengan kecepatan relatif terhadap waktu, dan kembali pada malam sebelum keberangkatan”,

atau sebagaimana yang ditulis oleh Alan Lightman dalam Mimpi-Mimpi Einstein-nya bahwa mereka yang hidup di gunung-gunung lebih awet muda dan tidak cepat menua ketimbang yang hidup di kota-kota. Di lembar-lembar Mimpi-Mimpi Einstein-nya itu, Alan Lightman pun menulis:

“Andaikan manusia hidup selamanya. Secara unik, warga di tiap kota terbagi menjadi dua: Kelompok Belakangan dan Kelompok Sekarang. Kelompok Belakangan bersikukuh untuk tidak perlu buru-buru kuliah di universitas, belajar bahasa asing, membaca karya Voltaire atau Newton, meniti karir, jatuh cinta, berkeluarga. Untuk semua itu, waktu tak terbatas. Kelompok Belakangan dapat dijumpai di setiap toko atau di setiap jalanan, mereka berjalan santai dengan busana longgar.

Kelompok Sekarang beranggapan bahwa dengan kehidupan yang abadi mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Ada tumpukan karir yang jumlahnya tak terhingga, menikah dalam kali kesekian yang tak terbayangkan, dan pandangan politik terus berganti. Mereka secara teratur membaca buku-buku terbaru, belajar tata cara perdagangan baru, bahasa-bahasa baru. Demi mencucup sari madu kehidupan yang tak terbatas itu, Kelompok Sekarang bangun lebih pagi dan tak pernah bergerak lamban….

Seandainya waktu berwujud burung bulbul. Waktu berdetak, bergerak, dan melompat bersama burung-burung itu – yang bergerak cepat, sangat gesit, dan sulit ditangkap. Tiap lelaki dan perempuan mendambakan seekor burung, karena dengan mengurung seekor burung bulbul dalam guci maka waktu berhenti dan membeku bagi orang-orang yang menangkapnya. Anak-anak, yang cukup gesit untuk menangkap burung, tidak tertarik menghentikan waktu. Bagi mereka, waktu bergerak terlalu lambat.

Mereka selalu terburu-buru dari satu kejadian ke kejadian lain, tak sabar menanti hari ulangtahun dan tahun baru, tak sabar menunggu lebih lama lagi. Kelompok tua mati-matian menginginkan waktu berhenti, tetapi mereka terlalu renta dan lamban untuk menangkap burung apapun. Bagi mereka, waktu berlalu demikian cepat. Mereka berhasrat menahan satu menit saja, untuk minum teh saat sarapan pagi, atau membantu seorang cucu yang kesulitan melepaskan seragamnya, atau menatap pemandangan senja saat matahari di musim dingin memantul dari hamparan salju dan menerangi ruangan musik dengan cahayanya….

Dunia tanpa ingatan adalah dunia saat ini. Masa silam hanya ada dalam buku-buku, dokumen-dokumen. Untuk mengenali diri sendiri, setiap orang membawa Buku Riwayat Hidup yang penuh dengan sejarah masing-masing. Dengan membaca buku itu tiap hari, ia mencari tahu kembali identitas orangtua mereka, apakah dirinya berasal dari golongan atas atau bawah, apakah prestasinya di sekolah memuaskan atau memprihatinkan, apakah ia telah mencapai sesuatu dalam hidupnya.

Di satu kafe di bawah rimbun pohon di Brunngasshalde, terdengar jerit pilu seorang lelaki yang baru saja membaca bahwa ia pernah membunuh orang, desah seorang perempuan yang menemukan dirinya pernah dipacari seorang pangeran, teriakan bangga seorang perempuan yang menyadari dirinya pernah menerima penghargaan tertinggi dari universitasnya 10 tahun lalu. Seiring waktu, Buku Riwayat Hidup itu menjadi demikian tebal sehingga tak mungkin lagi dibaca seluruhnya. Lalu, muncullah pilihan….

Para lanjut usia memilih membaca halaman awal agar dapat mengenali diri mereka dalam kemudaan. Beberapa orang memutuskan untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apapun yang terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang menari-narikan rambut mereka. Merekalah orang-orang yang menatap tajam pada mata kita dan menggenggam tangan kita erat-erat. Merekalah orang-orang yang melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban. Merekalah orang-orang yang telah belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan”.

Singkatnya, waktu adalah juga imajinasi. Dan salah-seorang fisikawan yang dikenal memiliki imajinasi yang kuat itu adalah Albert Einstein, hingga Lawrence M. Krauss, sang penulis Fisika Star Trek itu pernah berseloroh: “Sama seperti para pengarang, ia tak berbekal apa pun selain imajinasi”. Dalam hal inilah, sains dan sastra, sebagai contohnya, sama-sama dimungkinkan oleh rahim yang sama, yaitu imajinasi. Dan memang, Einstein pernah terus-terang berujar, “Imajinasi itu lebih penting ketimbang ilmu pengetahuan. Imu pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi mengelilingi dunia”.

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015). Tulisan ini pernah dipublikasi Radar Banten, 31 Oktober 2015 dengan judul “Sains dan Puisi”.

Sajak Sulaiman Djaya

Iklan

Satir Semiotik, Sejarah, dan Politik

Le Nom De La Rosa

“Buku-buku acapkali membicarakan buku lain….kala membaca buku Thomas Aquinas, aku jadi tahu apa yang dikatakan oleh Averroes (Ibn Rusyd)” (Umberto Eco, The Name of the Rose). “Jika dua hal tidak cocok namun Anda mempercayai keduanya, dan Anda berpikir sesuatu telah tersembunyi, maka yang menghubungkan ketiganya adalah iman” (Umberto Eco, Foucault’s Pendulum).

Adalah William dari Baskerville dan muridnya, Adso dari Melk, dua orang novis Katolik yang ditugaskan menyelidiki terjadinya pembunuhan seorang tukang lukis (lay-outer atau desainer jika meminjam istilah saat ini) halaman buku di sebuah biara Benediktin yang terpencil, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota dan metropolitan kala itu.

Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan kemegahan kompleks biara tersebut, bukan hanya karena bangunan gerejanya yang indah-berukir serta kaya akan pusaka luar biasa, namun juga karena keberadaan Aedificium nan menjulang tinggi, yang akan mengingatkan kita pada kisah Menara Babel di Babilonia yang konon dibangun atas perintah Namrud, yang telah musnah ribuan tahun silam itu.

Aedificium ini bahkan menyimpan permata yang luar biasa sangat berharga: naskah (manuskrip), buku, dan perkamen kuno dari Yunani, Andalusia, Romawi, dan pelosok Eropa. Di dalamnya, mereka menemukan berbagai risalah kuno yang diduga telah lama hilang, buku-buku sains dan ilmu pengetahuan dari negeri Saracen (Arab-Persia), serta lembar-lembar Injil (Bible) yang paling pertama.

Namun, teka-teki dan pesona serta misteri kedua keburu muncul tanpa mereka duga, dan tak sempat mereka antisipasi sebelumnya. Sesosok rahib ditemukan tewas tenggelam dalam kuali penuh darah, kemudian rahib lain ditemukan meninggal di bak penampungan air. Keduanya memiliki ciri yang sama, jari dan lidahnya menghitam.

Di hari keempat, sang ahli herbal ditemukan meninggal juga, ia dipukul sampai mati oleh seseorang, yang tak diketahui identitasnya. William dan Adso tentu saja harus bergegas menemukan siapa pembunuhnya, sebelum korban lain jatuh, dan sebelum petaka lain datang menyusul dan akan merenggut korban-korban lainnya.

Maka, malam-malam keduanya pun dipakai untuk menjelajahi labirin sekaligus perpustakaan misterius di Aedificum. Di antara pekatnya misteri dan suasana pembunuhan, keduanya menemukan berbagai buku berharga sebagai saksi kejayaan dari berbagai bangsa dan kerajaan di masa silam.

Di sana mereka menemukan simpanan naskah-naskah kuno yang pasti membuat para pustakawan pingsan: berbagai kitab ilmu karya Averroes (Ibn Rusyd dari Andalusia), Ibnu Haitham dan Al-Khawarizmi dari Persia, perkamen para ahli zaman Yunani kuno, hingga potongan-potongan yang mungkin merupakan bagian dari Injil yang asli.

Tetapi, bagaimanapun, misteri dan teka-teki yang telah banyak merenggut nyawa itu harus dituntaskan segera oleh William dan Adso, karena pada hari kelima terjadi lagi pembunuhan dengan ciri yang sama sebagaimana kematian-kematian misterius sebelumnya. Hanya ada satu petunjuk, dan keduanya, William dan Adso yang tak ubahnya pasangan detektif swasta Sherlock Holmes dan Watson rekaan Sir Arthur Conan Doyle itu, yakin bahwa ada sebuah buku yang menyebabkan kelima orang di biara tersebut mati.

Ketika akhirnya mereka berhasil memasuki ruang rahasia di labirin dan menemukan buku itu, semuanya telah terlambat. Korban keenam telah jatuh dan korban ketujuh adalah si penjahat yang mengorbankan dirinya demi kesalihan. Bencananya tidak hanya cukup sampai di situ. Perpustakaan itu, dan segala buku-buku kuno yang tersimpan di dalamnya, tersulut api dan membara dalam sebuah kebakaran akbar yang tak terpadamkan.

Maka begitulah, lenyap sudah buku yang menjadi sumber dari semua malapetaka ini, yang keberadaannya telah meyakinkan seseorang untuk mengambil segala daya dan upaya yang ia bisa, agar buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Maka, dengan dalih melindungi kemurnian Kerajaan Kristus, ia dengan tega telah bermain racun dan melenyapkan jiwa-jiwa malang yang “terlalu ingin tahu.”

Membaca novel The Name of the Rose yang ditulis Umberto Eco yang kemudian diangkat ke layar lebar ini, memang tak ubahnya kita membaca kisah-kisah penyelidikan dan petualangan menyingkap misteri yang dilakukan oleh tokoh Sherlock Holmes dan sahabatnya, Watson, dalam lembar-lembar kisah yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle itu, meski The Name of the Rose-nya Umberto Eco, tentu saja, meletakkan dan menempatkan dirinya dalam isu-isu filsafat dan kemanusiaan yang terkait dengan minat penulisnya pada isu-isu keagamaan dan pemikiran.

Umberto Eco sendiri dikenal sebagai pakar semiotika dan pembaca filsafat dan buku-buku teologi para penulis Kristen Abad Pertengahan. Minatnya pada teologi dan filsafat, cukup kentara terlihat, misalnya, dalam dialognya dengan Cardinal Carlo Maria Martini, yang salah-satu pokok pembicaraannya adalah bagaimana agar orang-orang beriman dan orang-orang yang tak beriman tetap melakukan dialog dan diskusi konstruktif demi menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik –dengan sama-sama bersikap rendah hati di antara keduanya, di antara mereka yang beriman dan mereka yang tak beriman.

Secara simplistis dan sederhana, novel The Name of the Rose-nya Umberto Eco (yang kebetulan juga pernah diangkat ke layar lebar ini) adalah contoh prosa novel yang secara jelas jika dibaca dengan cermat, berusaha mendadarkan dan menarasikan segugus satir politik dan sindiran sejarah dengan permainan semiotik yang ia jalin dalam latar historis, plot, dan tokoh-tokoh yang dikisahkan dari sebuah masa ‘Abad Pertengahan’ di mana kala itu ada ragam takhayul dan bagaimana kekuasaan acapkali membajak institusi-institusi gereja dan keagamaan.

Perang Dunia Ketiga Bermula dari Suriah?

Russian Airstrikes in Syria

Saat ini, para penguasa unilateral yang haus dengan kekuasaan terhadap kawasan regional dan global dan ingin menjadi adidaya kekuatan politik dan ekonomi dunia yang digawangi oleh As-Syaithon Al-Akbar yaitu Amerika, telah menciptakan benih-benih terjadinya konflik dan perang-perang bedarah di dunia, khususnya di Timur Tengah, semisal di Suriah.

Terkait dengan konteks Suriah saat ini, contohnya, tak sedikit para analisis yang memprediksi terjadinya Perang Dunia Ketiga yang bermula dari kasus Suriah saat ini. Analisis para pengamat dan banyak media tersebut memang bukan tanpa alasan, mengingat perkembangan situasi politik, militer dan pengaruh ekonomi Global yang terjadi saat ini.

Tak heran, kini di Suriah sikap Rusia dan China adalah berkomitmen saling mengisi “kekuatan” mereka agar potensi Amerika Serikat dan sekutunya (seperti Turki dan koalisi yang digawangi Rezim Al-Saud) menuju dominasi Globalisasi, yang pada kenyataannya lebih sering berupa imperialisme baru tersebut, agar menjadi tidak semudah yang dibayangkan dan diinginkan Amerika Serikat, NATO dan sekutu dekat Amerika Serikat seperti Rezim Jahiliah Nejed Al-Saud dkk.

Beberapa waktu silam, contohnya, Iran telah mengirimkan 15 ribu pasukan elit dari Divisi Quds untuk membantu tegaknya pemerintahan Suriah di bawah rezim Bashar Al-Assad. Sementara itu, Rusia telah mengirimkan 36 kapal perang dan 120 pesawat tempur untuk Suriah –sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Kommersant.

Tentunya pemerintah Rusia menolak memberikan kebenaran berita tersebut karena sama halnya menentang terang-terangan embargo senjata yang diterapkan oleh PBB dan Uni Eropa terhadap Suriah.

Sedangkan di sisi lain, yaitu China, telah memberikan sinyal pada Amerika Serikat bahwa mereka memiliki hubungan dengan Suriah dari era Hafez Al-Assad (ayahnya Bashar Al-Assad). Dalam hal ini China berpendapat, Suriah adalah terminal dagang penting. Tentu China tidak akan melepas hancurnya Suriah begitu saja karena China melihat pemerintah Suriah yang baru nanti adalah berhaluan ke Barat (jika Bashar Al-Assad berhasil digulingkan Israel, Amerika, Rezim Nejed Al-Saud dkk).

Bersamaan dengan itu, Rusia telah menegur Perancis akibat terlalu keras dan “berlebihan” menentang Rusia dalam sikapnya terhadap Suriah.

Negara di kawasan Asia lainnya, yaitu Korea Utara jelas beraliansi dengan Suriah. Menurut Fidel Castro, Amerika Serikat cepat atau lambat pasti akan menyerang Korea Utara. Israel menduga bahwa Korea Utara telah memberikan bantuan penting pada program rudal Iran dan Suriah.

Dan sebagaimana jamak diketahui, organisasi jongos bentukan Amerika, yaitu teroris Al-Qaeda, disusupkan oleh Amerika dkk ke Suriah untuk melakukan sabotase dan serangan terhadap legiun Iran dan Rusia.

Melihat fakta dan data di atas, maka kekhawatiran sejumlah kalangan akan terjadinya Perang Dunia Ketiga bukan tanpa alasan, apalagi tak sedikit yang menebak-nebak bahwa Perang Dunia Ketiga itu sendiri memang merupakan skenario yang dibuat oleh Amerika Serikat dalam program New World Order atau One World Government.

Dengan program tersebut dapat dilihat eskalasi militer terjadi mulai dari Mediterania (Libya, Suriah, Lebanon, Iran) sampai ke Laut Cina Selatan (RRC, Korut dan Rusia) telah menjadi target Amerika Serikat untuk mewujudkan pemerintahan satu dunia (Global) melalui pengaruh politik dengan cara perang, dan tentu juga dengan penguasaan lembaga-lembaga finansial dan per-bank-an dunia.

Al Bagdadi Agen Zionist Bashar Al-Assad Asma Al Assad Bashar Al-Assad Free Syrian Army or Free Sex Army Gadis Suriah Hafez Al Assad

BINT JBEIL, LEBANON - OCTOBER 14:  People Iranian President Mahmoud Ahmadinejad during his visit October 14, 2010 in the village of Bint Jbeil, Lebanon ,near the border with Israel. The controversial visit is being seen as a boost for key ally Hezbollah and their are reports Ahmadinejad may visit the border with Israel.  (Photo by Salah Malkawi/Getty Images)
BINT JBEIL, LEBANON – OCTOBER 14: People Iranian President Mahmoud Ahmadinejad during his visit October 14, 2010 in the village of Bint Jbeil, Lebanon ,near the border with Israel. The controversial visit is being seen as a boost for key ally Hezbollah and their are reports Ahmadinejad may visit the border with Israel. (Photo by Salah Malkawi/Getty Images)

Iran VS USA and Israel ISIS & Israel ISIS Didanai Rezim Saud 2 ISIS Koalisi Bangsa Rum Putin Muslim Russia and China Suriah

Amerika Ingin Gulingkan Bashar Al-Assad Sejak 2006

Russian Army Women 2

(Foto: Russian Army Women)

Adalah Julian Assange, pendiri situs anti-kerahasiaan WikiLeaks, lewat buku barunya, ”The WikiLeaks Files” yang membahas soal “Kerajaan Amerika Serikat (AS)”, mengungkapkan bahwa upaya Amerika untuk mendestabilisasi alias mengacaukan Suriah sudah direncanakan sejak tahun 2006.

Julian Assange juga mengungkap rencana AS untuk menumbangkan Bashar Al-Assad itu dalam program ”Go Underground” di stasiun televisi Russia Today. Bocoran itu dia peroleh dari bocoran kabel diplomatik dari Duta Besar AS di Damaskus pada saat itu, William Roebuck. Dokumen tersebut mengungkap bahwa diplomat AS itu mulai membicarakan hal-hal terkait rencana penggulingan Pemerintah Bashar Al-Assad di Suriah.

“Rencana itu menggunakan sejumlah faktor yang berbeda untuk menciptakan paranoid di Pemerintah Suriah, untuk mendorong reaksi berlebihan, untuk membuatnya takut akan adanya kudeta,” papar Julian Assange, yang dilansir 10 September 2015 lalu. Dalam program Go Underground yang disiarkan stasiun tivi Russia Today itu Julian Assange memaparkan bahwa rencana AS itu mencakup upaya untuk mendorong ketegangan dan adu-domba sektarian antara Syi’ah dan Sunni.

Julian Assange pun menyatakan bahwa bocoran kabel diplomatik AS itu “cukup memprihatinkan”. Untuk memahami apa yang terjadi di sekitar Suriah, lanjutnya, salah satunya harus melihat adanya sekutu regional. ”Sebagian dari masalah di Suriah adalah bahwa Anda mendapati sejumlah sekutu AS di kawasan, terutama Saudi dan Qatar, yang menyalurkan senjata dan dana,” demikian Julian Assange memaparkan.

“Turki juga (adalah) aktor yang sangat serius. (Mereka) masing-masing memiliki ambisi hegemonik mereka sendiri di wilayah tersebut. Dan yang juga sangat tidak diragukan lagi adalah Israel yang ingin menggulingkan Bashar Al-Assad sebagaimana Amerika. Jadi Anda mendapati sejumlah pemain di sekitar Suriah.”

Russian Army Women

Putin & Assad

Putin & Assad 2

Putin & Assad 3

Kerjasama ISIS, Israel, Al-Qaida dan Amerika

Jerat Muslihat Neo Liberalisme

Koran Al-Akhbar di Lebanon pada 29 Januari 2014 silam menurunkan tulisan Radwan Mortada seputar rencana strategis Al-Qaeda yang beredar luas di kalangan salafi-takfiri. Mortada mengulas isi rencana strategis itu dengan memperhadapkannya dengan situasi saat ini. Dari uraian itu terlihat jelas bahwa al-Qaeda bergerak dengan suatu rencana strategis yang terukur: dimulai dari serangan 11 September 2001 sebagai titik-tolak spektakuler dan berpuncak pada tahun 2020 dengan tegaknya Kekhalifahan Islam. Selebaran berisi rencana strategis dalam kurun waktu 20 tahun itu menepis miskonsepsi yang berkembang luas bahwa aksi-aksi berdarah al-Qaeda selama ini bersifat serampangan, tanpa pola dan strategi yang jelas. Miskonsepsi itu terbantahkan oleh terkuaknya puluhan dokumen yang memuat sejumlah cetak-biru dan rencana strategis jangka-panjang al-Qaeda, dengan tujuan-tujuan spesifik yang terencana.

Sekitar setahun pasca meletusnya konflik di Suriah, sebuah lembaga keamanan berhasil menyadap korespondensi antara pemimpin Jabhah al-Nusra (JN), Abu Mohammad Julani (AMJ), dan seorang tokoh al-Qaeda di Lebanon. Korespondensi itu merangkum rencana-rencana al-Qaeda setelah jatuhnya rezim Suriah, yang mencakup rekrutmen para pakar di bidang kedokteran, kimia, teknologi informasi, telekomunikasi, dan penempatan mereka di seluruh Lebanon sebagai persiapan untuk melaksanakan berbagai operasi.

Sejumlah dokumen yang diperoleh lembaga keamanan itu mengungkapkan bahwa strategi al-Qaeda di Lebanon dan di kawasan meliputi beberapa target, baik di tingkat lapangan maupun di tingkat rekrutmen dan mobilisasi. Beberapa ciri-khas rencana yang tertuang dalam tumpukan dokumen sadapan itu sebenarnya tertera dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 2005 silam. Buku karya jurnalis Yordania, Fuad Husein, yang berjudul “Al-Zarqawi—Generasi Kedua Al-Qaeda” (Al-Zarqawi—Al-Jayl Al-Tsani li Al-Qa’edah) dapat dibilang satu di antara sedikit karya otentik yang membahas organisasi misterius ini. Dalam buku itu, Husein, yang pernah mendekam bersama Al-Zarqawi di penjara Swaqa, Yordania, mengungkapkan banyak pikiran dan rencana komandan al-Qaeda itu. Di situ, Husein juga memuat wawancara mendalam dengan Syaikh Abu Mohammad al-Maqdisi, ideolog ternama al-Qaeda.

Buku lain yang beredar di forum-forum dan situs-situs jihadi takfiri, berjudul “Beginilah Kami Memandang dan Menginginkan Jihad” (Hakadza Nara Al-Jihad wa Nuriduh), karya Hazim Al-Madani, lebih jauh menjelaskan sejumlah tujuan, rencana dan tahap pergerakan al-Qaeda dalam rangka merebut kekuasaan di seluruh dunia Islam. Buku yang dibuka dengan seruan kepada seluruh ‘mujahidin’ untuk memperluas aktivitas jihad hingga mencakup seantero dunia, “dalam rangka memperbesar kekuatan umat dan meneror musuh-musuhnya.” Di buku itu juga terkuak rencana merebut kekuasaan yang dibagi dalam tujuh fase, terentang dalam dua dekade, dari tahun 2000 sampai tahun 2020, yang disebutnya sebagai tahun tergapainya “kemenangan akhir”.

Fase pertama dimulai dari tahun 2000 sampai tahun 2003. Fase ini disebut sebagai tahap “siuman” yang berpusat pada upaya “penyadaran kembali umat” dengan “melancarkan hantaman keras pada kepala ular di New York”. Tujuannya: membuat Amerika Serikat giras, panik dan bereaksi sedemikian rupa hingga dapat “memahkotai al-Qaeda sebagai pemimpin umat.” Ini mengacu pada apa yang disebut oleh pimpinan al-Qaeda sebagai “perang salib” AS atas Islam yang ditandai dengan invasi militer atas Afghanistan dan Irak, yang — menurut al-Qaeda — dapat memperluas medan tempur, membuat rakyat Amerika sebagai incaran mudah dan mengibarkan bendera al-Qaeda setinggi hari ini. Fase ini berakhir dengan pendudukan AS atas Irak tahun 2003. Tahap ini telah tercapai dengan bercokol-kuatnya al-Qaeda di Afghanistan dan Irak, jauh melampaui tenggat akhir keberadaan militer AS dan sekutunya.

Fase kedua bermula dari tahun 2003 sampai tahun 2006. Fase ini disebut sebagai “tahap membuka mata.” Pada tahap ini, al-Qaeda berencana menyeret musuh-musuhnya dalam pertempuran panjang tanpa batas waktu dan tempat, sambil mengembangkan apa yang disebutnya sebagai kapabilitas “jihad elektronik”, dalam persiapan memasuki fase ketiga. Sejalan dengan itu, al-Qaeda berupaya melakukan ekspansi terselubung di berbagai bagian strategis dunia Arab dan Islam, dengan memakai Irak sebagai pangkalan militer untuk membangun pasukan jihadi yang tangguh agar dapat digelar dalam berbagai operasi intelijen, keamanan maupun militer di berbagai negara kawasan. Rencana ini juga menandai bermulanya fase ketiga. Masih pada fase kedua ini, al-Qaeda dan turunannya akan menyemarakkan majlis kajian Islam guna melipatgandakan upaya penggalangan dana umat dari zakat dan infak untuk mendukung aktivitas dan perjuangan al-Qaeda.

Perhatian utama akan diberikan pada Syam (Suriah Raya yang mencakup Lebanon, Palestina dan Yordania). Inilah wilayah yang sesuai dengan berbagai nubuat yang diyakini kaum salafi-takfiri berasal dari Nabi ihwal yang bakal dilanda prahara pasca prahara serupa yang melilit Irak.

Fase ketiga berlangsung dari 2007 sampai 2010. Dalam rencana strategisnya, fase ini disebut sebagai tahapan “bangkit dan berdikari”. Inilah tahapan pergerakan proaktif dalam tiap-tiap wilayah operasi al-Qaeda. Di fase ini, al-Qaeda akan mengalami lompatan besar sejalan dengan perubahan krusial di wilayah sekitar Irak. Perhatian utama akan diberikan pada Syam (Suriah Raya yang mencakup Lebanon, Palestina dan Yordania). Inilah wilayah yang sesuai dengan berbagai nubuat yang diyakini kaum salafi-takfiri berasal dari Nabi ihwal yang bakal dilanda prahara pasca prahara serupa yang melilit Irak.

Menariknya, rencana strategis al-Qaeda itu ‘kebetulan’ sejalan dengan desain besar sejumlah badan intelijen Barat, termasuk CIA, untuk menata ulang Timur Tengah Baru (The New Middle East) dengan membentuk negara-negara mini yang berwatak sektarian dan etnis. Dalam berbagai kesempatan, mantan penasihat Dewan Keamanan Nasional dan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice, mengungkapkan tekad AS dan sekutunya untuk mengimpimentasikan desain tata ulang itu sejak tahun 2000-an. Ada apa di balik kesamaan rencana strategis antara Al-Qaeda dan CIA? Logika mengajarkan tak ada kebetulan di dunia ini.

Kembali soal rencana strategis al-Qaeda. Fuad Husein menyebutkan bahwa ide pembentukan Balatentara Syam (Jund Al-Syam) sebenarnya telah muncul sejak Al-Maqdisi dan Al-Zarqawi masih sama-sama berjihad di Afghanistan pada era 80-an. Invasi AS-NATO atas Afghanistan tahun 2001 sedikit menghambat persiapan pembentukan balatentara tadi. Tapi, setelah tahun 2004, sebagian besar pengusung ide tersebut telah menyebar kembali di Suriah, Lebanon dan Irak. Eks mujahidin yang dikenal dengan ‘Afghan Arab’ ini bertekad memanfaatkan peluang sekecil apapun demi merealisasikan ide pembentukan Balatentara Syam di Lebanon dan, tak lama setelah itu, di Suriah. (Catatan: Buku Fuad Husein tentang generasi kedua al-Qaedah terbit pada tahun 2005, jauh sebelum rangkaian peristiwa yang disebut dengan Arab Spring dan pemberontakan Suriah). Pada tahap ini, legitimasi al-Qaeda sebagai kepemimpinan umat yang sesuai syariat akan kian terkukuhkan.

Fase keempat bermula dari tahun 2010 hingga tahun 2013. Pada tahap ini, al-Qaeda akan mengambil momentum berbagai pergolakan dan kekacauan yang meriap di Timur Tengah dan dunia Islam, terutama sekali di Suriah. Itulah sebabnya mengapa fase ini disebut sebagai tahap “pemulihan kesehatan”. Fase ini akan ditandai dengan keterlibatan langsung jaringan al-Qaeda dalam menjatuhkan rezim-rezim Islam, baik dengan bertempur secara fisik maupun non-fisik. Di tahap ini juga al-Qaeda akan menggerakkan mesin-mesin propagandanya untuk mengekspose fakta-fakta (atau tuduhan-tuduhan) tentang pengkhianatan dan penindasan rezim-rezim itu atas umat dan ketundukan mereka pada atau setidaknya persekongkolan mereka dengan AS.

Untuk mengisi fase ini, al-Qaeda merencanakan empat aksi: 1.Menguras energi umat dan berbagai lembaganya dalam perang panjang melawan AS, dus menghidupkan industri militer sejagat; 2. Menciptakan instabilitas di negara-negara penghasil minyak; 3. Menggunakan emas sebagai pengganti dolar dalam kegiatan ekonomi, demi melenyapkan kemungkinan pelacakan aliran dana dan sebagainya; dan 4. Memperbesar arus al-Qaeda di seluruh kawasan dunia Arab dan Islam. Jika empat cara itu berhasil, maka otomatis rezim-rezim Arab pro Barat akan kehilangan cengkramannya. Kekacauan (chaos) pun akan timbul, seiring dengan tumbuhnya keraguan pada kekuatan lama dan kebutuhan pada kekuatan baru. Di sini, al-Qaeda akan memfait-accompli dirinya sebagai kekuatan real yang harus diperhitungkan.

Fase kelima yang dimulai dari tahun 2013 sampai tahun 2016 akan ditandai dengan “deklarasi kekhalifahan atau negara Islam,” sebagai tujuan akhir gerakan al-Qaeda. Dalam pikiran para penyusun rencana strategis al-Qaedah itu, pada fase ini dunia akan menyaksikan transformasi radikal, dimulai dengan runtuhnya poros Anglo-Saxon dan munculnya kekuatan-kekuatan baru di dunia yang tidak secara langsung bermusuhan keras dengan umat, seperti India dan Cina, yang bakal bertandem dengan pertumbuhan eksponensial al-Qaeda di dunia, baik di dunia Islam maupun di dunia Barat dari kalangan imigran Muslim yang menetap di sana.

Jelas sekali bahwa permusuhan yang berkobar-kobar pada Iran dan Hizbullah ini sebuah tarian tango maut antara dinas intelijen Amerika Serikat dan Al-Qaeda untuk menggiring umat memiliki momok baru, musuh buatan, untuk mengalihkan pandangannya dari musuh yang sebenarnya.

Para ideolog al-Qaeda kini seperti mendapat angin segar. Rencana-rencana strategis mereka tampak tak terlalu jauh melenceng dari situasi yang ada. Bumi Irak dan Suriah yang mereka idam-idamkan sebagai pijakan jihad masih membara. Poros Anglo-Saxon, yang dapat direpresentasikan sebagai Uni Eropa pun kian lunglai. Lagi-lagi seperti yang sudah mereka prediksikan.

Secara khusus, menyaksikan apa yang kini terjadi di kawasan Timur Tengah dan berbagai belahan dunia Islam lain, pimpinan al-Qaeda bisa jadi sedang kipas-kipas. Kini, mereka menyongsong fase keenam dalam rencana strategis mereka sambil membusungkan dada. Fase yang dimulai dari tahun 2016 dan berakhir pada 2020, dalam rencana mereka merupakan tahap Armagedon alias perang pamungkas antara “kaum beriman melawan kaum kafir”.

Fase ini akan berpuncak pada tegaknya Kekhalifahan Islam di bawah panji hitam Al-Qaeda — atau begitulah yang mereka yakini.

Para perumus strategik al-Qaeda percaya bahwa tahun 2016 adalah babak awal menjelang tegaknya kekhalifahan Islam. Babak ini akan ditandai dengan meluasnya usaha mujahidin mendirikan ‘kekhalifahan Islam’, menggaungkan apa yang kerap dinyatakan oleh Usama bin Laden sebagai “penerapan hukum Allah di muka bumi”. Fase ini digambarkan bakal ditandai dengan kian meratanya aspirasi umat untuk kembali pada ‘sistem kekhalifahan’. Periode kekerasan dan perang bakal terus berlanjut hingga kemenangan telak tercapai sekitar tahun 2020.

Pada saat itu, menurut para ‘pemikir al-Qaeda’, “kapabilitas negara Islam telah sampai pada tingkat di mana semua musuh akan gentar menghadapinya.” Apalagi, dalam hitungan mereka, 1.5 milyar umat di seantero dunia akan mendukung cita-cita khilafah tersebut, setelah gagalnya berbagai eksperimen umat dengan berbagai sistem sekuler yang dipaksakan.

Menariknya, dokumen-dokumen yang bocor dan memuat cerita seputar rencana strategis al-Qaeda, umumnya terbit antara tahun 2000 hingga tahun 2006. Artinya, sebelum ada tanda-tanda meleduknya gonjang-ganjing yang dikenal dengan ‘Arab Spring’ di akhir 2010 hingga hari ini, al-Qaeda telah bersiap memasuki suatu era konfrontasi akbar dan kemenangan puncak. Rencana strategis yang konon merangkum berbagai ide, pengalaman, dan prediksi para perumus al-Qaeda yang beraliran salafi jihadi takfiri itu, tersusun sedemikian realistis hingga lebih akurat dari naskah pra produksi dari sebuah film. Rangkaian adegannya berurut seperti film kolosal: adegan serangan atas New York dan Washington tahun 2001; serangan AS-NATO atas Afghanistan dan Irak yang kini justru berbalik jadi pangkalan membangun “pasukan jihadi”; Arab Spring yang merentang dari Afrika Utara hingga jantung Arab, Suriah; dan terakhir, deklarasi Negara Islam Irak dan Syam pada tahun 2013 (yang lebih dikenal dengan singkatan ISIS/ISIL atau Al-Daulah al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syam [DAIIS]), sejalan dengan berbagai dokumen yang dipublikasi tahun 2005.

Pertanyaannya, akankah al-Qaeda terus menguat sampai benar-benar mampu meraih kemenangan pamungkas pada tahun 2020 dan mendirikan ide kekhalifahan Islam internasional? Orang bisa berbeda di sini.

Para perumus dan simpatisan al-Qaeda yang merasa ‘mewakili Allah’ di bumi, barang tentu melihat semua yang terjadi sejauh ini sebagai ‘pertolongan Allah’ atas apa yang mereka perjuangkan. Mereka bakal kian berhalusinasi melihat ‘kemenangan akbar’ saat Abu Bakar Baghdadi mendeklarasikan negara Islam di Suriah dan Irak (DAIIS). Bagaimana tidak? Dua negara yang pernah menjadi ibukota dua imperium besar Islam, Umayyah dan Abbasiyah, kini telah menjadi satu negara dalam kekuasaan mereka. Apalagi jika kita ikuti riwayat-riwayat yang mereka yakini berasal dari Nabi seputar nubuat kemenangan Islam yang dimulai dengan prahara di Suriah dan Yaman. (Catatan: Suriah yang dikenal dengan Syam dan Yaman memiliki signifikansi khusus dalam sejarah teologi Islam. Riwayat-riwayat yang menubuatkan kedatangan Imam Mahdi seragam menyebutkan posisi strategis bagi kedua negara tersebut. Meski demikian, sejumlah mazhab Islam berselisih ihwal identitas dan proses kemunculan Imam Mahdi).

Tapi, benarkah demikian? Benarkah situasi kiwari menunjukkan kian dekatnya al-Qaeda dengan cita-cita kekhalifahan Islam yang mereka impikan?

Analisis lebih jauh akan situasi yang terjadi saat ini tampaknya menunjukkan trend yang bertolak belakang dengan rencana strategis al-Qaeda. Seperti yang pernah disinyalir Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nashrallah, tahun lalu, krisis Suriah adalah ‘jebakan batman’ (baca: perangkap) bagi al-Qaeda dan organ haus darah sebangsanya. Bagaimana bisa? Sedikitnya ada beberapa alasan: Pertama, perancang jebakan ini tak lain adalah perumus al-Qaeda itu sendiri –bukan hanya sejak tahun 2000 silam, tapi bahkan sejak era 80-an. Karenanya, para penjebak itu paham betul bagaimana menjinakkan ‘hewan’ piaraannya sendiri. Berbagai keselarasan yang demikian mencolok antara rencana strategis al-Qaeda dan rencana strategis dinas intelijen Amerika Serikat (dan Israel) di Timur Tengah memperkuat teori ini.

Kedua, al-Qaeda adalah organisasi jihad yang dirancang, dibesarkan (atau dibesar-besarkan), dan diperalat justru untuk mengubur jihad yang sebenarnya.

Menurut teori ini, absurditas ideologi salafi jihadi takfiri yang dikembangkan al-Qaeda tak mungkin dapat tumbuh dalam masyarakat Muslim yang plural. Ia hanya bertahan saat ada kekerasaan dan kekacauan, karena raison d’etre-nya adalah untuk membunuh, merusak dan menghancurkan. Tidak ada unsur kehidupan dalam ideologi al-Qaeda dan segenap turunannya. Absurditas ideologis al-Qaeda dapat berguna membidas kelompok pengusung jihad sejati sekaligus melindungi dalang yang sebenarnya. Toh, al-Qaeda berhasil mengalihkan ribuan “mujahid” Palestina dan Arab dari tanah air mereka yang dijajah untuk memerdekakan tanah air lain. Pada gilirannya pula, penjajah yang sebenarnya dapat hidup tenang dalam negeri jajahannya senyampang mengirim kaum terjajah untuk membebaskan tanah air yang lain.

Ketiga, krisis Suriah adalah perangkap tuan besar untuk melumat senjata-makan-tuan bernama al-Qaeda dan turunannya. Mujahidin yang pada dekade sebelumnya dikenal sebagai sekrup AS-NATO untuk melawan Uni Soviet kini sudah mulai membahayakan keamanan anak-anak emas tuan besarnya, yakni rezim-rezim Arab dan Israel. Untuk itu, para perancang ini memancing al-Qaeda dengan umpan paling menggiurkan: peluang menguasai Irak dan Syam sekaligus!

Para pembuat perangkap tentu yakin bahwa penerimaan rakyat Irak dan Suriah terhadap al-Qaeda takkan seperti rakyat Afghanistan. Akibatnya, mayoritas rakyat kedua negara itu akan bangkit melawan al-Qaeda dengan segala cara. Mereka terlalu berbudaya untuk dapat menerima ideologi al-Qaeda. Dan perlawanan rakyat dua negara itu, ujung-ujungnya, akan membabit al-Qaeda dalam lingkaran setan perang yang takkan bisa dimenangkan. Tentu, dalam prosesnya, ratusan ribu –bahkan mungkin jutaan — nyawa yang tak berdosa bakal jadi tumbalnya.

Keempat, perpecahan antara organisasi induk al-Qaeda dan DAIIS adalah bukti lain keabsahan teori jebakan ini.

Fakta perpecahan antara ISIS/DAIIS di satu sisi dan Jabhah Al-Nusrah- Al-Jabhah Al-Islamiyyah-Ahrah Al-Syam dan sebagainya di sisi lain, atau antara Abu Bakar Al-Baghdadi dan Abu Muhammad Al-Julani, memperlihatkan adanya penetrasi intelijen asing yang menyusup sampai ke otak al-Qaeda — untuk tidak menyebut al-Qaeda adalah virus yang sengaja disebar untuk menggerogoti imunitas umat itu sendiri.

Terakhir, dan paling mencemaskan, upaya mati-matian al-Qaeda dan sekutunya untuk mengobarkan perang sektarian di tengah Muslimin. Permusuhannya pada Iran dan Hizbullah, dua musuh bebuyutan AS dan Israel di kawasan, tidak mungkin dianggap ‘polosan’, sekadar persoalan historis. Jelas sekali bahwa permusuhan yang berkobar-kobar pada Iran dan Hizbullah ini sebuah tarian tango maut antara dinas intelijen Amerika Serikat dan Al-Qaeda untuk menggiring umat memiliki momok baru, musuh buatan, untuk mengalihkan pandangannya dari musuh yang sebenarnya.

Khusus untuk alasan kelima, kita dapat merujuk pada berbagai buku yang beredar luas di situs-situs salafi jihadi takfiri, seperti situs Minbar al-Tauhid wa al-Jihad yang banyak memuat pikiran-pikiran Abu Muhammad Al-Maqdisi, mentor Abu Mush’ab Al-Zarqawi. Di antara buku terbitan internal al-Qaeda yang menyerang habis Hizbullah adalah karya Syaikh Abu Abdul Mun’im Mushtofa Halimah (Abu Bashir Al-Tharthusi) yang berjudul “Hizbullah Al-Lubnani wa Tashdir Al-Madzhab Al-Syi’i Al-Rafidhi” (Hizbullah Lebanon dan Penyebaran Mazhab Syiah Rafidhoh).

Dalam buku itu, penulis pada intinya memperingatkan masyarakat Sunni Timur Tengah bahwa Hizbullah adalah gerbang terbesar gerakan Syiah internasional, menggunakan pintu Palestina, untuk menyebarkan Syiah ke segenap penjuru dunia.

Seorang Muslim yang waras tentu akan bertanya: Apakah pentingnya mazhab dalam menghadapi penjajahan dan penindasan rezim Zionis Israel atas kiblat pertama umat dan pengusiran bangsa Palestina? Mengapa perlu ada peringatan seperti ini, di saat tanah air dan tempat-tempat suci umat dinistakan bukan alang kepalang? Bukankah ini suatu pengalihan yang nyata atas fokus jihad yang sejati? Bukankah ini cara paling ampuh untuk memutar senjata agar dapat saling membunuh satu barisan, dan mengamankan musuh dari bidikan peluru kita? (Islam Times/MK)

KAA, Sumbangan Indonesia Bagi Dunia

Leaders from Asia and Africa pose for a group photo before the start of the Asian-African Conference in Jakarta

(Foto oleh Reuters)

Radar Banten, 22 April 2015

“Indonesia dapat dibilang sebagai Kekuatan Ketiga (Poros Dunia Ketiga) di luar poros Washington dan Moskow kala itu”

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 silam tak ragu lagi merupakan bukti nyata sumbangan Indonesia bagi dunia, baik secara politik dan yang lainnya. KAA tersebut tentu saja bukan tanpa konteks politik, namun justru sebaliknya, konferensi tersebut diselenggarakan dalam rangka memompa dan membangun kesadaran politik untuk merdeka bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Merdeka dalam segala hal: budaya, ekonomi, politik dll. Konferensi yang terbilang monumental tersebut kemudian menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Dasasila Bandung, yang isinya adalah:

[1] Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB. [2] Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara. [3] Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil. [4] Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain. [5] Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif, sesuai dengan Piagam PBB. [6] (a) Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. (b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun. [7] Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun. [8] Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, ataupun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB. [9] Meningkatkan kepentingan dan kerja sama bersama. [10] Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.

Dalam konteks politik global kala itu, yaitu di tengah situasi dan kondisi Perang Dingin antara kubu Washington (Amerika) dan Moskow (Uni Soviet), konferensi tersebut telah berhasil membangun suatu gerakan dan kekuatan alternatif baru di luar kubu Washington dan kubu Maskow, yaitu yang kelak kita kenal dengan Gerakan Non-Blok.

Dapat dikatakan, sukses dan terselenggaranya konferensi tersebut merupakan prestasi besar Indonesia dalam kancah global di era Bung Karno, yang bahkan dikatakan karena hal itulah, Indonesia dianggap sebagai “bapak” bagi sejumlah bangsa di benua Asia dan Afrika yang saat itu tengah berjuang untuk merdeka dan mandiri dari cengkeraman kolonialisme Barat. Sementara itu, secara subjektif, keberhasilan dan terselenggaranya konferensi tersebut menunjukkan kepiawaian dan kelihaian Soekarno dan Bangsa Indonesia dalam memerankan diri dalam percaturan dan pertarungan politik global, sehingga Indonesia dapat dibilang sebagai Kekuatan Ketiga (Poros Dunia Ketiga) di luar poros Washington dan Moskow kala itu.

Tak hanya itu saja, Konferensi Asia Afrika tersebut juga telah melahirkan solidaritas dan kerjasama ekonomi, politik, dan budaya di antara sejumlah bangsa di benua Asia dan Afrika, dan tentu saja telah menempatkan gengsi Indonesia (dan Bung Karno) sebagai kekuatan dunia yang sangat diperhitungkan, yang bahkan membuat Amerika merasa khawatir dan was-was kepada Bung Karno sejak suksesnya konferensi tersebut. Singkatnya, selain telah melambungkan nama Indonesia dalam kancah politik global, KAA tersebut juga telah melambungkan nama Bung Karno dalam barisan para pemimpin dunia yang sangat disegani dan sangat diperhitungkan.

Namun, yang tak boleh dilupakan adalah bahwa penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika itu sendiri memang didasari pada keinginan dan kehendak Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa peserta konferensi tersebut untuk terbebas dari cengkeraman kolonialisme dan penjajahan suatu bangsa-bangsa tertentu (yang dalam hal ini Barat) atas dan terhadap bangsa-bangsa lain.

Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 itu adalah sebuah spirit Bangsa Indonesia dan sejumlah bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mandiri dan bebas menentukan nasibnya sendiri, dan juga dalam rangka memerangi unilateralisme dan dalam rangka membangun solidaritas bagi perdamaian dunia, sebagaimana tercermin dengan jelas dalam 10 poin Dasasila Bandung yang telah disebutkan itu.

Dalam hal ini, tak ada salahnya jika kita mengupas sedikit “kepiawaian” politik Bung Karno sendiri sebagai Presiden Indonesia, yang mana dalam Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 itu, ia mengumandangkan sebuah pidato yang cukup spektakuler dan monumental yang berjudul “Let a New Asia And a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, bangsa-bangsa Asia dan Afrika peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun demikian kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia.

Dan pada bagian akhir pidatonya itu, Bung Karno mengatakan: “Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

Dengan kata lain, Bung Karno telah berhasil menempatkan Indonesia sebagai aktor politik sangat penting dalam kancah politik global dengan menghimpun kekuatan dan solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika, yang kelak akan melahirkan Gerakan Non-Blok itu. Dan seperti kita tahu, dalam konteks perjuangan politik bangsa Indonesia sendiri, salah-satu kepiawaian Bung Karno adalah ketika dengan cerdik memainkan sentimen Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet bagi kepentingan Indonesia.

Sebagai contohnya adalah ketika ia menggunakan kartu Uni Soviet, dengan menerapkan kebijakan luar negeri dengan metode gertak sambal, yaitu menakut-nakuti Amerika bahwa militer Uni Soviet akan membantu Indonesia dan akan memporak-porandakan Belanda, negara sekutu abadi Amerika di tanah penjajahan Papua, ketika ia berusaha merebut Papua dari Belanda. Alhasil, berkat diplomasi Bung karno tersebut, Amerika pun tak berkutik, dan Presiden John F. Kennedy pun dengan sangat terpaksa memerintahkan Belanda untuk hengkang dari tanah Irian Barat (Papua).

Demikianlah, Papua (Irian Barat) pun kemudian bebas dari penjajahan Belanda tanpa harus jatuh korban dan melakukan peperangan besar. Sungguh sebuah permainan diplomasi cantik yang diperagakan oleh pemimpin Indonesia, yaitu Bung Karno, dengan spirit nasionalisme yang tinggi dan sikap pemerintahan yang independen. Sebuah kepiawaian politik yang dimainkan seorang pemimpin yang memadukan Islam, Marxisme (semangat anti penjajahan dan penindasan), dan nasionalisme pada saat bersamaan dalam konteks percaturan dan pertarungan politik global era Perang Dingin kala itu.

Sulaiman Djaya

Pidato Mahmoud Ahmadinejad di PBB 20 April 2009

Iranian President Mahmoud Ahmadinejad gives his address to world leaders at the United Nations General Assembly on Sept. 26, 2012

Bismillahirrahmanir rahim. Allahumma ‘Ajjil Liwaliyyikal Faraj Wal’Afiah Wannashr. Waj’alna min Khairi Ansharihi wa A’wanihi Walmustasyhadina Baina Yadaih.

Segala puji dan syukur khusus milik Allah Yang Adil, Pengasih dan Yang Menginginkan Kebaikan Hamba-Nya. Salam Allah kepada para nabi ilahi mulai dari Nabi Adam hingga Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan pamungkas para nabi, Muhammad saw. Mereka semua adalah penyeru monoteisme, persaudaraan, cinta, kehormatan manusia dan keadilan.

Pimpinan sidang, Sekjen PBB, Komisi Tinggi HAM, Ibu dan bapak,

Kita berkumpul di sini guna melanjutkan konferensi anti rasisme Durban dengan membahas kondisi kekinian dan solusi praktis dalam perjuangan suci dan manusiawi ini. Dalam peristiwa di beberapa abad terakhir telah terjadi banyak kezaliman besar terhadap umat manusia. Di abad pertengahan para ilmuwan dihukum mati. Setelah itu masuk masa perbudakan dan pemburuan manusia tak berdosa, lalu memisahkan mereka dari keluarganya dengan mengirimkan mereka ke Eropa dan Amerika dalam kondisi sangat buruk bila dibandingkan jutaan manusia lainnya.

Periode kegelapan yang dibarengi oleh penjajahan berbagai daerah disertai penjarahan kekayaan alam dan pembantaian serta mengungsikan dengan paksa warga tak berdosa. Bertahun-tahun lewat bangsa-bangsa bangkit untuk mengusir para penjajah lalu mendirikan pemerintah independen dan nasional dengan nyawa jutaan manusia.

Gila kekuasaan dalam waktu singkat memaksakan dua perang besar di Eropa dan sebagian dari Asia dan Afrika. Perang yang hasilnya mengorbankan ratusan juta nyawa manusia dan hancurnya lahan-lahan tanah-tanah subur. Mereka yang menang dalam perang menganggap dirinya sebagai jagoan dan pemenang dunia, sementara bangsa-bangsa lainnya dipandang sebagai pecundang. Mereka lalu membuat undang-undang dan sistem yang zalim, tidak peduli dan bahkan menistakan hak-hak bangsa lain.

Ibu dan bapak,

Pandang Dewan Keamanan PBB sebagai warisan Perang Dunia I dan II. Dengan logika apa mereka mendapatkan keistimewaan dan hak veto? Nilai-nilai kemanusiaan dan ilahi seperti apa yang bisa menerima logika ini? Dengan keadilan? Dengan persamaan di hadapan hukum? Dengan kehormatan manusia? Atau diskriminasi, ketidakadilan, pelanggaran HAM dan ancaman bagi mayoritas bangsa dan negara di dunia? Ini kondisi dewan tertinggi dan referensi pengambilan keputusan bagi perdamaian dan keamanan dunia! Ketika diskriminasi ada dan sumber hukum tidak lagi keadilan dan kebenaran, tapi arogansi dan kekuatan, bagaimana dapat diharapkan terciptanya keadilan dan perdamaian? Gila kekuasaan dan egoisme sumber rasisme, diskriminasi, agresi dan kezaliman.

Sekalipun kini kebanyakan orang-orang rasis juga ikut-ikutan mengecam rasisme dalam slogan dan ucapan mereka, namun ketika beberapa negara kuat punya hak berdasarkan kepentingannya mengambil keputusan untuk negara-negara lain, mereka dengan mudah menginjak-injak hukum dan nilai-nilai kemanusiaan. Dan hal itu telah dilakukan oleh mereka.

Setelah Perang Dunia II dengan alasan orang-orang Yahudi menjadi korban dalam peristiwa holocaust dan dengan agresi mereka mengungsikan sebuah bangsa dan mereka mengirimkan orang-orang Yahudi dari Eropa, Amerika dan dari berbagai negara di dunia tinggal di daerah itu. Mereka akhirnya mendirikan pemerintah yang mutlak berasaskan rasisme di Palestina Pendudukan. Sejatinya, alasan untuk menebus kerugian rasisme di Eropa, mereka mendirikan rasisme paling kejam di tempat lain, yaitu Palestina.

Dewan Keamanan PBB mengakui pemerintah perampok ini dan selama 60 tahun membelanya serta memberikan kesempatan rezim ini untuk melakukan segala bentuk kejahatan. Lebih buruk dari ini, sejumlah negara Barat dan Amerika merasa berkewajiban untuk membela para rasisme pembantai manusia. Ketika manusia yang masih memiliki hati nurani bersih menyaksikan pengeboman dan pembantaian yang terjadi di Gaza dan mengecam aksi tersebut, mereka malah membela para penjahat. Sebelum itu juga mereka memilih diam di hadapan segala terbongkarnya kejahatan yang dilakukan rezim ini dan mendukungnya.

Saudara-saudara yang mulia, ibu dan bapak,

Apa alasan di balik perang terakhir seperti serangan Amerika ke Irak dan pengiriman besar-besaran tentara ke Afganistan? Apa alasannya selain arogansi pemerintah Amerika waktu itu, tekanan para pemodal dan penguasa untuk melebarkan pengaruh dan hegemoni, menjamin kepentingan para produsen senjata, penghancuran sebuah peradaban ribuan tahun, menghancurkan bahaya potensial dan aktual negara-negara regional terhadap Rezim Zionis Israel dan menjarah sumber-sumber energi Irak?

Jujur saja, mengapa ada satu juta orang tewas dan cidera dan jutaan lainnya harus mengungsi? Jujur saja, apakah serangan ke Irak dengan rencana Rezim Zionis Israel dan sekutu mereka di pemerintah Amerika waktu itu yang di satu sisi bersandar pada kekuasaan dan di sisi lainnya bersandar pada para pemilik perusahaan senjata? Apakah dengan mengirimkan pasukan ke Afganistan, perdamaian, keamanan, ketenangan dan kesejahteraan telah kembali di negara ini?

Amerika dan sekutunya tidak mampu bahkan hanya untuk mencegah produksi narkotika. Kehadiran mereka di Afganistan kini malah membuat produksinya meningkat berkali-kali lipat!

Pertanyaan pentingnya adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika dan sekutunya waktu itu? Apakah mereka menjadi wakil-wakil dunia? Apakah mereka pilihan bangsa-bangsa di dunia? Apakah rakyat di dunia mewakilkan kepada mereka untuk mengintervensi seluruh dunia (tentunya mereka lebih banyak melakukan intervensi di kawasan kami)? Apakah aksi-aksi pendudukan Irak dan Afganistan bukan bukti dari arogansi, rasisme, diskriminasi, penistaan kehormatan dan kemerdekaan bangsa-bangsa?

Ibu dan bapak,

Siapa penanggung-jawab ekonomi dunia setelah terjadi krisis ekonomi dunia? Krisis bermula dari mana? Dari Afrika, Asia atau bermula dari Amerika yang kemudian menyebar ke Eropa dan sekutunya!

Cukup lama mereka memaksakan undang-undang dan peraturan tidak adil ekonomi dengan kekuatan politik dalam interaksi politik dan intenasional. Mereka menetapkan sistem moneter dan keuangan tanpa ada pengawasan internasional. Mereka memaksa seluruh negara dan bangsa di dunia untuk tidak ikut campur dalam proses dan pengambilan kebijakan. Mereka bahkan tidak pernah memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk melakukan pengawasan. Dengan meminggirkan moral dalam berbagai hubungan, mereka membuat undang-undang dan peraturan yang menguntungkan sebuah kelompok penguasa dan kaya. Dengan mendefinisikan sendiri pasar bebas dan persaingan, mereka berhasil menjegal kesempatan pihak lain memindahkan masalah yang dimilikinya ke pihak lain.

Kini puncak krisis puluhan ribu miliar hutang dan ribuan miliar defisit anggaran telah kembali kepada mereka sendiri.

Kini untuk memperbaiki kondisi mereka mulai menyuntikkan ratusan miliar tanpa pendukung dari kantong rakyat Amerika sendiri dan dari seluruh dunia kepada bank-bank, perusahaan-perusahaan besar dan pasar moneter yang hampir bangkrut. Dengan cara ini mereka kembali membuat rakyatnya semakin banyak hutan dan masalah menjadi semakin kompleks.

Mereka hanya memikirkan kekuasaannya saja. Bagi mereka masyarakat internasional, bahkan rakyat mereka sendiri tidak bernilai.

Pimpinan sidang, ibu dan bapak,

Akar asli rasisme kembali pada ketidaktahuan akan hakikat manusia sebagai makhluk terpilih dan menyimpang dan jalur kehidupan manusia dan tugas manusia dalam penciptaan. Lalai dari penyembahaan secara sadar kepada Allah dan pemikiran dalam filsafat kehidupan dan jalur kesempurnaan manusia yang berasal dari hasil alami akibat komitmen terhadap nilai-nilai ilahi dan manusiawi. Semua ini menyebabkan tataran cara pandang seorang manusia menjadi turun yang membuatnya hanya memikirkan kepentingan terbatas dan fana sebagai prinsip dalam berlaku. Dengan demikian inti kekuatan yang memiliki sifat setan telah terbentuk. Dengan menghapus kesempatan secara adil bagi pertumbuhan orang lain ia berusaha mengembangkan diri. Sebagaimana dalam bentuk terburuknya berubah menjadi rasisme yang tidak lagi memiliki kekangan dan kini menjadi faktor paling berbahaya yang mengancam perdamaian dunia dan menutup jalan terciptanya kehidapan damai.

Tidak ragu lagi bahwa rasisme harus dinilai sebagai simbol kebodohan dalam sejarah dan tanda-tanda kekolotan di hadapan pertumbuhan manusia umumnya. Dari sini diharapkan kita mencari pengejawantahan rasisme dalam penyebaran kondisi kemiskinan akan ilmu dan ketiadaan pemahaman bagi masyarakat.

Oleh karenanya, solusi asli dalam memerangi fenomena ini adalah menyebarkan pemahaman masyarakat dan memperdalam pemahaman mereka mengenai filsafat keberadaan manusia dan hakikat dunia dengan fokus manusia. Hasilnya adalah kembalinya manusia kepada nilai-nilai spiritual, moral, keutamaan manusia dan kecenderungan kepada Allah. Masyarakat internasional harus dalam sebuah gerakan universal budaya demi menjelaskan lebih luas lagi kepada masyarakat yang terkena penyakit ini dan tentunya mereka terkebelakang. Bila ini dilakukan simbol keburukan dan kekotoran ini bakal tergerus dengan cepat.

Saudara-saudara yang terhormat,

Kini masyarakat internasional menghadapi semacam rasisme yang keburukannya merusak citra manusia di awal milenium ketiga dan mempermalukan umat manusia.

Zionisme Internasional simbol mutlak rasisme yang berbohong atas nama agama dan memanfaatkan simpati keagamaan demi menyembunyikan wajah buruknya dari orang-orang yang tidak punya informasi. Namun yang harus diperhatikan dengan serius adalah upaya sebagian kekuatan besar dan pemilik kepentingann luas di dunia dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi, pengaruh politik dan media berusaha sekuat tenaga mendukung Rezim Zionis Israel dan mengurangi keburukannya. Di sini sudah bukan masalah kebodohan!

Oleh karenanya, tidak boleh mencukupkan diri dengan aksi-aksi budaya untuk melawan fenomena buruk ini, tapi yang harus dilakukan adalah mengakhiri penyalahgunaan Israel dan para pendukungnya akan lembaga-lembaga internasional sebagai alat politiknya. Dengan menghormati keinginan bangsa-bangsa lain dan memperkuat tekad negara-negara untuk mengikis habis rasisme ini serta berani mengambil langkah memperbaiki hubungan internasional.

Tidak ragu lagi Anda semua tahu ada upaya besar kekuatan-kekuatan dunia untuk menyelewengkan tugas penting ini dalam pertemuan ini.

Patut disayangkan bahwa diplomasi dukungan terhadap Zionis Israel memiliki arti ikut serta secara transparan dalam setiap aksi kejahatan dan ini menambah tanggung-jawab wakil-wakil terhormat yang hadir untuk membongkar aksi anti manusia dan segera memperbaiki hubungan dan perilaku. Harus diketahui bahwa mengenyampingkan kapasitas besar dunia seperti konferensi ini merupakan bukti asli membantu berlanjutnya keberadaan rasisme paling buruk. Konsekuensi membela HAM saat ini pertama adalah membela hak bangsa-bangsa untuk bebas dalam mengambil keputusan penting dunia tanpa campur tangan pihak-pihak lain dan kedua, harus melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki struktur dan hubungan internasional.

Mencermati hal ini, konferensi ini menjadi ujian besar dan opini dunia hari ini dan esok akan menilai apa yang kita lakukan.

Pimpinan sidang, ibu dan bapak,

Kondisi dunia dengan cepat tengah mengarah pada perubahan prinsip. Relasi kekuatan tampak sangat rapuh. Suara patahnya tulang punggung kezaliman dunia telah terdengar. Struktur politik dan ekonomi makro tengah menuju kehancurannya. Krisis politik dan keamanan semakin dalam dan krisis ekonomi yang semakin meluas dan tidak ada secercah harapan untuk memperbaikinya. Berbagai dimensi baik kuantitas dan kualitas transformasi di berbagai bidang untuk maju sangat menakjubkan. Saya berkali-kali menekankan agar kembali dari jalur salah dalam mengelola dunia saat ini dan memperingatkan bila terlambat menyikapi masalah ini. Kini dalam konferensi internasional tak ternilai kepada kalian dan setiap pemimpin, pemikir dan kepada semua bangsa di dunia yang haus akan perdamaian, kebebasan, kemajuan dan kesejahteraan, saya ingin mengatakan bahwa pengelolaan tidak adil yang menguasai dunia telah berakhir!

Kebuntuan ini tidak dapat dihindarkan karena muncul dari logika pengelolaan yang bersumber dari pemaksaan zalim. Karena logika gerakan dunia merupakan gerakan transenden, punya tujuan, manusia sebagai fokus dan kecenderungan kepada Allah. Gerakan yang akan melawan setiap kebijakan dan program yang tidak memihak kepentingan bangsa-bangsa dunia. Kemenangan kebenaran atas kebatilan dan masa depan cerah manusia berdasarkan sistem dunia yang adil merupakan janji Allah dan para nabi, bahkan harapan seluruh masyarakat dan generasi. Terciptanya masa depan seperti ini merupakan konsekuensi dari kebijaksanaan dalam penciptaan dan menjadi kepercayaan semua hati orang yang percaya kepada Allah dan posisi tak ternilai manusia.

Pembentukan masyarakat dunia praktis memungkinkan terciptanya sistem bersama dunia dan dengan ikutnya para ilmuwan, para pemimpin dan masyarakat dunia untuk ikut serta secara aktif dan adil dalam pengambilan keputusan makro dan prinsip merupakan jalur pasti dari tujuan besar ini. Kini kapasitas keilmuan, teknik, dan teknologi informasi dan komunikasi mampu membentuk pemahaman bersama dan luas dari masyarakat dunia dan sebagai sarana bagi terciptanya satu sistem bersama. Kini tanggung jawab besar ini berada di pundak para pendidik, ilmuwan dan negarawan seluruh dunia yang percaya akan jalan pasti ini mampu memainkan peran historisnya. Saatnya saya ingin menekankan satu hakikat bahwa Kapitalisme Barat sama dengan Komunisme telah berakhir karena tidak mampu melihat manusia sebagai apa adanya dan berusaha untuk memaksakan jalan dan tujuan yang diciptakan untuk manusia.

Ketimbang memperhatikan nilai-nilai manusia dan ilahi, keadilan, kebebasan, cinta dan persaudaraan, malah menjadikan persaingan keras guna meraih kepentingan materi, individu dan kelompok sebagai prinsip hidupnya.

Kini dengan mengambil pelajaran dari masa lalu dan memahami keharusan mengubah jalan dan kondisi saat ini, mari kita semua bertekad untuk berusaha di segala bidang. Sekaitan dengan hal ini dan sebagai pembicaraan terakhir, saya mengajak semua untuk memperhatikan dua poin penting:

[1] Perubahan kondisi dunia dan itu pasti bisa dilakukan, namun perlu diketahui bahwa hal ini hanya dapat dilakukan dengan kerjasama seluruh negara dan bangsa. Oleh karenanya, harus memanfaatkan seluruh kapasitas yang ada untuk kerjasama internasional. Kehadiran saya dalam konferensi ini sebagai penghormatan atas masalah penting, begitu juga masalah HAM dan pembelaan hak-hak bangsa dalam menghadapi fenomena buruk rasisme bersama kalian para ilmuwan.

[2] Mencermati tidak berfungsinya sistem-sistem yang ada dan relasi politik, ekonomi, keamanan dan budaya internasional perlu melakukan perubahan dalam struktur yang ada dengan memperhatikan nilai-nilai ilahi dan manusiawi, analisa yang benar dan realistis mengenai manusia, berdasarkan keadilan dan memberikan nilai kepada hak semua manusia di seluruh dunia, para hegemoni harus mengakui kesalahan sebelumnya dan mengubah cara berpikir dan berlaku. Sekaitan dengan masalah ini, perubahan segera Dewan Keamanan PBB, menghapus keistimewaan diskriminatif hak veto, perubahan sistem moneter dan keuangan dunia harus segera dijadikan agenda untuk dibicarakan. Jelas, tidak memahami pentingnya perubahan segera sama dengan biaya lebih besar perubahan itu sendiri.

Saudara-saudara saya yang terhormat,

Ketahuilah, gerakan menuju keadilan dan kemulian manusia bak gerak cepat dalam arus air. Jangan sampai kita melupakan eliksir cinta. Kepastian masa depan cerah bagi manusia merupakan modal besar yang mampu membuat kita semakin mengerti dan berharap untuk berusaha menciptakan dunia yang penuh dengan cinta, nikmat, tidak ada lagi kemiskinan, semua mendapat rahmat Allah dalam kepemimpinan manusia sempurna. Mari kita berusaha untuk memiliki saham dalam masalah penting ini!

Dengan harapan akan hari cerah dan indah! Kepada pemimpin sidang, Sekjen PBB dan kepada kalian semua yang mendengarkan pidato ini, saya mengucapkan terima kasih banyak. Semoga sukses dan tetap jaya. (Diterjemahkan oleh Saleh Lapadi)

"Pustaka Esai Sulaiman Djaya"